Selasa, 23 November 2010

hasil dialog antara lembaga mahasiswa dengan rektor, tanggal 23 nov 2010.





Kepada Yth , Bapak Rektor Universitas Udayana

Tulisan yang kami buat ini merupakan sebagai tanda kecintaan terhadap kondisi kampus Universitas Udayana, semoga pasca dialog dan pemberian tulisan yang berisi keluh kesah mahasiswa terhadap kondisi di kampus tercinta Universitas Udayana terjadi sebuah pembaharuan atau perbaikan di berbagai sektor penyelenggaraan kehidupan kampus. Harapan besar kami sebagai mahasiswa bahwa suara kritis kami di dengarkan dan kemudian kampus Udayana sebagai rumah kedua mahasiswa menjadi sebuah kampus yang nyaman untuk di jadikan tempat menggali ilmu, nilai moral dan pengetahuan lainnya, serta terdapat sebuah kebanggan sebagai mahasiswa udayana apabila kampus terintegrasi dengan kehidupan mahasiswa itu sendiri. Adapun beberapa pesan perbaikan kampus yang kami sampaikan antara lain yaitu :

· Fasilitas kampus :

Udayana sebagai barometer pendidikan tinggi, seharusnya memiliki fasilitas yang mencukupi untuk menunjang sistem pembelajaran dan kehidupan organisasi mahasiswa yang dinamis. Beberapa keluhan mahasiswa adalah kurang lengkapnya fasilitas di kampus Udayana yang antara lain keterbatasan laboratorium pendukung, kemudian kekurangannya ruang kelas atau gedung perkuliahan bahkan ada beberapa prodi yang harus beberapa kali pindah gedung dalam sistem pengajarannya, contohnya adalah prodi psikologi, kemudian masih kurangnya sarana prasarana menunjang kehidupan dinamis mahasiswa seperti wifi yang belum semua fakultas terjangkau dan koneksinya pun masih sangat lambat. Persoalan lain adalah masalah fasilitas di beberapa fakultas khususnya yang di bukit jimbaran belum mempunyai toilet atau wc umum, seandainya memiliki kondisinya sangat tidak layak. Masalah lain dalam meningkatkan organisasi mahasiswa yang maju kita belum memilki sarana atau lapangan bersama untuk mahasiswa di gunakan sebagai tempat latihan baik ukm olaharaga maupun beladiri.

Selain itu kebersihan dan perawatan kampus masih di laksanakan setengah hati. Saya mengambil contoh masih tumbuh liarnya tanaman di areal kampus bukit jimbaran. Baik pada pintu masuk maupun di areal beberapa fakultas dan gedung rektorat. Bahkan kampus Udayana apabila di analogikan lebih layak seperti hutan. Kebersihan beberapa gedung perkuliahan di bukit jimbaran juga belum kondusif untuk melaksanakan sistem perkuliahan. Selain itu juga di beberapa fasilitas di denpasar juga apabila terjadi turun hujan kampus akan mengalami banjir, tepatnya di beberapa areal seperti depan gedung pasca sarjana, gedung ikm dan samping kanten waserda. Semoga ada penyelesaian signifikan terhadap kasus banjir ini agar tidak memberikan dampak negatif yang buruk seperti timbulnya wabah penyakit, secara estetika tidak enak di pandang dan persoalan lainnya. Solusi yang kami tawarkan agar di buat saluran pembuangan air hujan yang representatif.

· Pengelolaan Keuangan

Harapan besar kami di mahasiswa udayana bahwa adanya sebuah sistem penyelenggaraan sistem keuangan yang transparan dan mempunyai sebuah alur administratif dalam pencairan keuangan kemahasiswaan khususnya yang jelas atau satu pintu. Masih berjalan lambatnya sistem reformasi birokrasi keuangan di kampus Udayana menyulitkan mahasiswa untuk mengekspresikan dan menyalurkan minat bakat melalui program kegiatan yang akan di buat. Harapan besar kami bahwa adanya tranparansi sistem pengelolaan keuangan, karena di era keterbukaan saat ini tidak adalagi hal-hal yang di tutupi dalam penyelenggaran sebuah negara , saya analogikan kampus adalah perwakilan negara dalam areal pendidikan tinggi. Agar terjadi sinkornisasi dan tidak terjadi kecurigaan perlu adanya pembahasan lebih lanjut dengan mahasiwa untuk memberikan tranparansi sistem pengelolaan keuangan dan terdapat satu pintu serta sistem pedoman yang jelas dalam pencairan dana kemahasiswaan.

Selain itu ada beberapa hal yang ingin kami pertanyakan pengelolaan nya bapak, karena ada beberapa teman-teman mahasiwa yang mengeluh kepada kami mahasiswa. Seperti masih terjadinya pungutan liar di beberapa fakultas baik atas nama sumbangan pembelian ac, lcd dll. Selain itu juga pungutan liar saat mahasiswa meminta transkrip kartu hasil studi, itu terjadi di beberapa fakultas. Selain itu yang ingin kami tanyakan bagaimana rincian pengeluaran uang wisuda sebesar 800.000, karena apabila di bandingkan pembayaran uang yudisium di fakultas jauh lebih mahal biaya yang di kenakan, belum lagi hanya mendapatkan fasilitas toga saja.kami menginginkan adanya keterbukaan dalam pengelolaan uang wisuda mahasiswa dan tidak adalagi pungutan liar atas kedok apapun seandainya terjadi permohonan sumbangan seharusnya di bicarakan terlebih dahulu oleh mahasiswa.

· Sistem Perkuliahan

Sistem perkuliahan yang baik menjadi cerminan ilmu yang di miliki oleh mahasiswa dan juga seharusnya ada keseimbangan dengan waktu untuk mahasiswa menjalankan keaktifan di organisasi. Ada beberapa masukan dalam penyelengaraan sistem akademik, karena hingga saat ini di beberapa dosen di fakultas masih terdapat sistem akademik yang konvensional, belum mampu menggunakan sebuah sistem pembelajaran yang modern dan dua arah, adanya timbal balik antara mahasiswa dengan dosennya. Bahkan ada beberapa karakter dosen yang tidak mampu di ajak berdiskusi atau berbeda argumentasi dengan mahasiswanya. Kami mahasiswa menilai ini pertanda kita belum mempunyai sistem akademik yang mengarah kepada kemajuan bersama. Selain itu juga terkadang sistem akademik di beberapa fakultas yang padat bahkan perkuliahan sampai dengan hari sabtu mengganggu waktu pengembangan diri soft skill mahasiswa, karena mahasiswa sudah di padatkan dengan perkuliahan dan tugas-tugasnya, sedangkan seperti di gembor-gemborkan oleh petinggi kampus udayana baik di tingkat universitas maupun fakultas harus adanya keseimbangan antara hard skill maupun soft skill. Bagaimana mau seimbang apabila waktu yang di berikan kurang proposional.

· Organisasi Kemahasiswaan

Organisasi kemahasiswaan juga menjadi penyokong sebuah kehidupan kampus yang dinamis. Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan terkait persoalan di organisasi kemahasiswaan. Persoalan pendanaan organisasi kemahasiswaan di tingkat universitas khususnya yang masih minim mengakibatkan tidak berjalannya program-program yang baik di organisasi kemahasiswaan.Seharusnya adanya pendanaan yang cukup untuk melaksanakan roda organisasi kemahasiswaan. Bahkan mahasiswa tidak pernah di libatkan dalam membuat sebuah rencana kerja penyusunan anggaran kemahasiswaan. Kemudian juga fasilitas untuk organisasi kemahasiswaan belum di perhatikan secara signifikan. Bahkan kami tidak mempunyai ruang atau lapangan untuk latihan yang bisa di gunakan bersama,atau ruang pertemuan kecil yang tidak harus membayar menggunakannya. Selain itu juga organisasi kemahasiswaan sering di persulit untuk mencairkan dana yang juga sudah menjadi haknya untuk menjalankan organisasi kemahasiswaan. Selain itu juga rencana pengekangan atau intervensi kegiatan kemahasiswaan dengan munculnya monitoring dan evaluasi di beberapa kegiatan seperti penerimaan mahasiswa baru dan kegiatan kemahasiswaan secara umum yang baru muncul. Kami dengan tegas menolak tim monev tersebut apabila mengintervensi sistem atau program yang kami buat, seharusnya mahasiswa di berikan ruang ekspresi yang merdeka untuk menyalurkan minat dan bakatnya

Semoga apa yang kami tulis di jadikan pedoman oleh bapak rektor universitas udayana dalam mengambil kebijakan, karena ini suara tulus mahasiswa untuk pentingnya kemajuan kampus udayana tercinta. Harapan besar kami bahwa tulisan yang kami berikan di jawab dengan tulisan juga yang langsung di buat oleh bapak rektor. Terimakasih bapak rektor universitas udayana

Adji Prakoso

( Presiden BEM Univ Udayana )

Jawaban dari dialog dengan rector tanggal 23 november 2010 :

Semua poin dalam tulisan di atas kami sampikan secara menyeluruh, ada beberapa jawaban kategori jawaban rektor dalam menanggapi persoalan kampus, ada terbagi dalam jangka waktu dekat terselesaikan dan jangka waktu panjang. Jawaban rektor atas penyampaian aspirasi mahasiswa antara lain yaitu :

  • Fasilitas atau sarana penunjang di kampus :
  1. Beberapa fasilitas atau sarana prasarana seperti laboratorium untuk menunjang kegiatan perkulaiahan, agar beberapa fakultas mempunyai lab yang otonom/ tidak berbagi dengan fakultas lainnya bahwa sedang di bangun laboratorium baru bersama yang akan mengakomodir system menunjang perkuliahan, kemungkinan akhir tahun 2011 atau awal tahun 2012 akan selesai, karena berbenturan dengan anggaran yang terbatas
  2. Fasilitas yang kami di bahas selanjutnya adalah rencana pembuatan gor atau stadion indoor untuk penyelenggaran kegiatan mahasiswa baik olahraga maupun lainnya, yang akan di bangun pada tahun 2012 bekerjasama dengan kementerian pemuda dan olahraga
  3. Kami juga mengusulkan di buatkan taman atau tempat untuk mahasiswa bersosialisasi di bukit agar pasca kuliah tidak langsung pulang, melainkan dapat beraktivitas di kampus baik untuk diskusi/menggunakan akses wifi/bersantai, maka di rencanakan pembangunan udayana park ( taman mahasiswa ) pada tahun 2011, sudah di buatkan denah rencana pembangunannya, selain itu juga kami mengusulkan agar di bangun tempat duduk untuk bersantai/diskusi mahasiswa di belakang rektorat, yang sudah di tumbuhi pohon rindang,agar mahasiswa mempunyai alternatif pilihan pasca perkuliahan di bukit
  4. Selain itu kami juga mengkritisi perawatan kampus bukit, yang memang di janjikan akan di rawat fasilitas di bukit dengan bekerjasama dengan berbagai pihak baik di pusat maupun daerah, apalagi tahun 2011 jalur udayana di lewati sebagai tamu dalam konfensi apec jadi akan ada kerjasama perbaikan kampus yang di support oleh pemerintah
  5. Selain itu juga rektor menjanjikan fasilitas toilet dan wifi yang baik akan menyebar di setiap titik fakultas dengan mendesak pihak dekanat
  6. Selain itu juga untuk menjaga fasilitas kampus di tambah tenaga pengamanan di bukit dari 20 satpam menjadi 30 satpam, di denpasar dari 19 satpam menjadi 25 satpam, apalagi kemudia belum lama marak terjadi kasus pencurian serta perampokan di kampus bukit baik di gedung ekonomi maupun fasilitas unud lainnya seperti pom bensin
  7. Selian itu untuk pusat organisasi mahasiswa student center untuk lantai 1 dan 2 tahun 2010 sudah bias di gunakan, untuk tahun 2011 akan di plester dan cat dalam untuk lantai 3 dan 4. Jadi tahun 2011 student center akan selesai pelaksananya.
  8. Kami juga mengkritisi agar kampus di bukit juga mendapatkan perhatian pembangunan jangan semua di arahkan ke denpasar, rektorpun mengiayakan itu bahwa kampus di bukit tidak akan di tinggalkan atau dalam artian tidak akan semua di pindah ke denpasar,apalagi sarana penunjang khususnya gedung tidak mencukupi
  9. Selain itu juga rektor menjawab kritikan kami soal banjir di kampus denpasar khususnya depan gedung pasca sarjana dan depan gedung ikm, bahwa sudah di bentuk tim untuk mengatasi masalah banjir, yang di tanggung jawabkan ke pembantu rektor 2
  • Masalah Keuangan
  1. Jadi kami menyampaikan bahwa system birokrasi keuangan harus di perbaiki, harus adanya kemudahan mahasiswa dalam mencairkan dana kegiatan kemahasiswaan, serta adanya rembuk bersama di awal tahun depan untuk membahas alur atau pedoman pencairan keuangan agar nantinya mahasiswa tidak di perulit dalam pencairan dana kegiatan kemahasiswaan
  2. Selain itu juga rektor menjawab soal pertanyaan kami soal besaran untuk uang wisuda yang cukup mahal di bandingkan uang yudisium di fakultas, rektor menjawab tidak mungkin untuk pengadaan nasi di wisuda karena jumlahnya ribuan, takut nasi akan basi maka dig anti snack berat dan akan di tambahkan dengan merchandise atau kenang2an yang di dapat kepada para wisudawan, serta rektor akan meminta rincian kepada ketua panitia wisuda yang cukup banyak dan akan di usahakan untuk di kurangi biaya wisuda nya
  3. Selian itu untuk beasiswa tepat sasaran di terima masukannya, namun juga untuk beasiswa semua sudah di serahkan pengelolaannya di fakultas masing-masing> jadi yang mengkordinir di bawah dekanat
  4. Untuk pungutan liar di beberapa fakultas memang tidak di benarkan terjadi seperti memungut uang mahasiswa untuk mengeprint khs dan lain-lain,akan di tanyakan kepada pihak dekanat yang melakukan pungutan
  • Sistem Perkulaiahan
  1. Kita menyampaikan bahwa masih adanya perkuliahan hingga hari sabtu, kami menolak system perkilahan hingga hari sabtu karena mahasiswa tidak mempunyai waktu untuk berorganisasi dan bersosialisasi. Rektor akan menanyakan dan memerintahkan di beberapa fakultas yang membuat kuliah hingga sabtu secara regular, seperti kami contohkan di fakultas hokum untuk system pbl
  • Organisasi kemahasiswaan :
  1. Rektor menjawab pertanyaan kami yang menolak pembentukan tim monev kemahasiswaan yang kami anggap dapat membahayakan independensi kehidupan organisasi kemahasiswaan, rektor akan menanyakan kepada pembantu rektor 3 karena itu di bentuk inisiatif pr3, tanpa sepengetahuan rektor
  2. Selain itu juga kami memohon ada peningkatan fasilits untuk organisasi kemahasiswaan, rektor menyambut baik dengan di bentuknya student center dan rencana pembangunan gor mini yang pengelolaannya nanti di serahkan ke mahasiswa, serta perbaikan fasilitas mahasiswa yang ada pada saat ini.

Teman-teman ada beberapa janji yang di utarakan oleh rektor, kita harus kawal ini semua baik jangka pendek maupun menengah, mohon bantuan teman-teman semua kita kawal kebijakan baik di universitas maupun fakultas, apabila ada persoalan jangan ragu untuk di adukan ke BEM Universitas Udayana atau perwakilan teman-teman di fakultas bpm atau bem nya. Semoga ada perbaikan signifikan di kampus kita tercinta Udayana

Kamis, 11 November 2010

Apakah Kita benar-benar mahasiswa ???????




Apakah Kita benar-benar mahasiswa ???????

“ Refleksi Kondisi Kehidupan Kampus Udayana”

Oleh : Adji Prakoso

“ Presiden BEM Udayana dan Kader GmnI Denpasar

Banyak Bicara, Banyak bekerja

“ Ir. Soekarno “

Pesan singkat bung karno yang tercantum dalam tulisan di atas merupakan sebuah pernyataan arif dan bijak kepada rakyat Indonesia agar sinergis antara berbicara dengan tindakan, khususnya dalam koridor kehidupan mengabdi untuk ibu pertiwi. Pesan bijak bung karno tersebut, tanpa terkecuali harus mampu di renungkan untuk mengaktualisasikannya dalam ruang lingkup ilmiah, khususnya di kehidupan intelektual seorang mahasiswa. Mengapa mahasiswa juga harus di bebankan sejarah pesan bung karno tersebut ? Hal ini di karenakan penyematan kata mahasiswa tidak hanya di peruntukan untuk kepentingan mencari ilmu bagi kepentingan seorang individu yang menempuh jenjang pendidikan tinggi, melainkan ada sebuah pesan moril label mahasiswa. Sejarah panjang dan pengakuan kebenaran secara ilmiah atas perjuangan ideal mahasiswa dalam mencatatakan tinta emas sejarah perjuangan suatu bangsa merupakan pesan moral yang harus di sematkan dalam pemberian gelar mahasiswa di setiap generasi.

Mahasiswa merupakan simbol perlawanan yang lugas atas kesewenang-wenangan terhadap keadaaan sosial, bahkan rakyat banyak menyandarkan harapan dan cita-cita atas keadilan sosial di punggung mahasiswa. Soe Hok Gie pun pernah berpesan : bahwa gerakan mahasiswa di analogikan sebagai koboy yang datang ke kota untuk membersihkan dan menumpas serangan perampok, namun saat perampok dapat di lumpuhkan sang koboy pun meninggalkan kota untuk menghindari popularitas. Jadi pesan moril yang juga di sampaikan oleh GIE bahwa mahasiswa harus mampu menjadi pioner perubahan dengan gerakan moral yang di bangun, tanpa mengharapkan pamrih atas perjuangannya. Mahasiswa harus terus membangun gerakan sosial ( moral force ) yang konsisten berpihak dalam perjuangan rakyat tertindas, serta harus teradaptasi dengan konteks zaman.

Namun apa yang terjadi dengan mahasiswa hari ini ? saya mencoba merenungkan, mengamati, merekam dan membuat sebuah analisa tentang kehidupan mahasiswa hari ini, khususnya yang terjadi di kampus tercinta Udayana. Apakah hari ini kita sudah benar-benar mengamalkan nilai atau panduan wajib seorang mahasiswa ? Kehidupan mahasiswa udayana hari ini tidak lagi “sehat” ( dalam tanda kutip ), pencerminan semangat agung seorang mahasiswa tidak lagi bersemayam dalam hati individu mahasiswa udayana. Mengapa saya berani mengambil kesimpulan seperti itu ? karena dari jumlah total mahasiswa udayana sekitar 20.000 yang hari ini terdaftar, hanya segelintir yang peduli akan kondisi kampus, bali dan nusantara. Hal ini tercermin sepinya peminat oraganisasi dan kegiatan mahasiswa di berbagai elemen, baik di tingkat jurusan, fakultas dan universitas. Mungkin apabila ada, tidak semuanya masuk ke dalam organisasi atau mengikuti kegiatan mahasiswa di landaskan dengan ketulusan berbuat banyak untuk kampus dan ibu pertiwi, sebagian besar di landasi keterpaksaaan yang mengikat karena skp atau kebutuhan biologis mencari pendamping ( pacar ) dan sebagian lainnya masuk ke organisaisi hanya terpaku untuk meningkatkan kualitas dirinya atau bahasa formil dalam setiap sesi interview alasan masuk organisasi mahasiswa, karena ingin belajar “ sungguh jawaban umum dan sangat biasa “.

Contoh lainnya yang bisa mendeskripsikan melencengnya pemahaman kehidupan ideal seoarang mahasiswa di udayana adalah saat sepinya peserta mimbar mahasiswa yang di adakan bem univ udayana sekitar bulan juli lalu untuk mengkritisi kebijakan dan kondisi kampus,. Bahkan saat ruang mengkritisi kebijakan kampus yang di fasilitasi BEM Udayana, diperluas dalam grand meeting yaitu berbicara satu forum dengan para elit birokrat seperti rektor,dekan dll mahasiswa yang hadir hanya segelintir orang dan sebagian besar hanya termenung menjadi penunggu kursi-kursi, hanya segelintir orang konsisten berteriak lantang untuk perbaikan udayana di depan rektor, itupun sebagian besar ketua-ketua lembaga mahasiswa. Sedangkan apabila kegiatan penerimaan mahasiswa baru, yang memiliki celah seorang senior untuk mejeng atau petantang petenteng di depan junior sangat di minati, bahkan baru hari pertama pembukaan kepanitian kapasitas panitia bisa langsung terpenuhi.

Apalagi kalau kegiatan di tujukan untuk menganalisa kondisi sosial di bali ataupun nusantara hanya segelintir orang yang peduli dalam kegiatan tersebut. Bahkan hanya orang-orang itu saja dan tidak tergantikan,yang jelas biasa menjadi penghuni diskusi aau kajian persoalan rakyat ! Dalam diskusi atau kajian persoalan rakyat saja sepi apalagi melakukan penyikapan pasca diskusi atau kajian, karena pilihannya harus berbenturan dengan kepentingan elit penguasa. Tetapi itulah seni ketulusan perjuangan mahasiswa idealnya berani melawan kesepian dan arus resiko perjuangan. Namun apabila kita siap dengan resiko perjuangan tulus pada saat menyandang status mahasiswa, niscaya akan menjadi pemimpin bangsa atau daerah suatu saat nanti yang mampu membawa rakyat dari ketertindasan, kemiskinan dan kebodohan.

Jadi siapa yang salah dalam perselingkuhan makna mahasiswa di Udayana ?. Banyak pihak yang terus memperlemah kehidupan ideal dan kritis mahasiswa, Jelas negara mempunyai kepentingan di belakang ini. Negara yang di representasikan dalam kampus oleh rektor, dekan dll mempunyai cara untuk membendung kondisi dinamis mahasiswa di kampus.

Mahasiswa di beratkan ansich oleh kehidupan akademis,namun tidak di berikan waktu maksimal untuk mengelola kehidupan organisasi mahasiswa, karena mahasiswa sudah di lelahkan oleh padatnya jadwal akademik. Selain itu negara melalaui kepanjangan tangannya di kampus juga melakukan pendekatan secara konsisten dan sistemik untuk melemahkan posisi tawar mahasiswa, banyak yang di berikan janji-janji manis untuk di bantu akademiknya, namun satu sisi harus menurut untuk mengikuti kebijakan elit kampus yang di buat sedangkan belum semua kebijakan berpihak kepada kehidupan dinamis seorang mahasiswa.

Selain itu faktor lemahnya pemahaman atas nilai ideal yang harus di miliki mahasiswa, karena hari ini sedikit mahasiswa yang mempunyai niat membaca atau menginvestasikan uangnya untuk membeli buku yang bermanfaat dan mempunyai nilai perjuangan ideal mahasiswa di dalamnya, seandainya membaca buku hanya bersifat normatif, terbatas yang berkaitan dengan perkuliahan atau hiburan. Jarang saya lihat mahasiswa yang memiliki buku-buku wajib perjuangan mahasiswa : seperti buku para tokoh bangsa soekarno,hatta,sjahrir,ki hadjar dewantara, buku soe hok gie “catatan seorang demonstran, tetralogi pramoedya ananta toer, buku filsafat karl marx, plato, dll. Sedangkan jelas buku tersebutlah yang memberikan dan menjaga semangat kita untuk menjadi mahasiswa idealnya. Bahkan parahnya lagi membaca koran atau menyaksikan media yang mengandung unsur berita tidak setiap hari, sedangkan ini penting untuk mengupdate perkembangan sosial.

Selain itu sepinya forum-forum diskusi untuk menyelesaikan persoalan sosial, juga memperlihatkan bahwa mahasiswa udayana sebagian besar tidak lagi peduli atas kondisi sosialnya baik di kampus, bali maupun indonesia. Lebih baik memilih ke mall atau ke tempat nongkrong lainnya. Bahkan sajian kegiatan mahasiswa yang di lakukan oleh temannya acapkali di kecam tidak bermutu atau tidak mengandung unsur sosial dll, sedangkan apabila di minta untuk membantu menuangkan gagasan dalam bentuk kongkrit membangun organisasi dan kegiatan mahasiswa yang mempunyai makna sejarah enggan dengan alasan yang bermacam-macam, terkesan normatif dan klise, seperti sibuk tugas, kuliah dan praktikum. Apakah tidak di anggap mahasiswa yang aktif kuliah teman-temannya aktivis di organisasi ?.

Inilah realitas yang harus kita gugat bersama, mahasiswa tidak boleh menjadi menara gading atas persoalan sosial yang ada baik dalam skala terkecil maupun lingkup luas. Mahasiswa tidak boleh lagi ansich berada di bangku perkuliahan,apabila ada persoalan sosial hanya bisa mengecam atau paling maksimal. Karena persoalan tidak bisa selesai dengan mengecam atau berdoa saja, namun harus di iringi keuletan untuk mengoptimalisasi pengetahuan yang di dapat dari kelas untuk mengaktualisasikannya dalam perjuangannya. Sebuah pesan dari Prof.Ikrar nusa bakti “ Akademisi dan pengamat politik” tentang mahasiswa , bahwa kaum intelektual indonesia bukanlah orang-orang yang berumah di atas angin, mereka juga bukan cerdik cendikia yang tinggal di menara gading yang tercerabut dari akar masyarakatnya hidup dan hidup di awang-awang, melainkan dan terlebih lagi harus siap abagikan resi yang turun dari tempat pertapaan mereka di gunung-gunung. Artinya hasil kontempelasi pemikiran sebagai resi yang bertapa menimba ilmu di Universitasnya dj jabarkan dalam pemikiran dan tindakan nyata di masyarakat. Selamat berjuang kawan-kawan. Semoga kita sadar bahwa kampus, bali dan Indonesia masa depannya juga ada di pundak kita.MERDEKA

Hidup Mahasiswa Indonesia

Hidup Rakyat Indonesia

Rabu, 08 September 2010

carut marut sistem pendidikan indonesia


Perkembangan kemajuan peradaban hari ini di bumi, memberikan pergeseran makna dalam setiap aspek kehidupan, bahkan seakan bumi tidak memiliki sekat antara satu negara dengan yang lainnya, hal ini di sebut dengan globalisasi. Globalisasi tidak memiliki makna yang tunggal, namun demikian globalisasi dapat di artikan sebagai sebuah proses multidimensional dalam aspek sosial, ekonomi, politik, budaya yang bergerak secara ekstensif dan intensif dalam kehidupan masyarakat dunia yang mengubah cara berfikir dan bertindak mereka. Globalisasi bergerak secara ekstensif berarti bahwa perubahan cara berfikir masyarakat tersebut menjangkau wilayah geografis yang hampir tidak terbatas, sedangkan intensif bermakna bahwa perubahan tersebut juga mencakup dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka.[1]

Globalisasi dalam kemajuan perkembangan zaman juga memberikan dampak negatif yang berakibat rusaknya bumi. Bumi rusak akibat perbuatan tangan manusia. Manusia yang tidak mandiri dan tidak memiliki kemerdekaan serta terkungkung dalam kesadaran naif. Karena itu , di perlukan usaha bersama guna menyadarkan atau mengakat manusia ke taraf insani ( meminjam istilah Driyakarya ). Salah satunya dengan pendidikan kritis. Pendidikan kritis adalah usaha sadara dan terencana untuk mendidik, mengolah dan meningkatkan potensi yang tela di berikan tuhan kepada setiap manusia. Pendidikan kritis adalah pendidikan orang dewasa yang penuh dengan cinta kasih atau welas asih. Manusia di ajak untuk berfikir dan sadar bahwa ia adalah bagian dari makrokosmos bumi. Bumi perlu di selamatkan dari kerusakan dan kepunahan.

Pendidikan kritis juga mengajarkan sebuah kenyataan yang tidak harus menjadi suatu keharusan . Jika kenyataan menyimpang dari keharusan, sudah menjadi tugas manusia untuk mengubahnya, agar sesuai dengan apa yang seharusnya. Kenyataan tersebut sering di sebut dengan fitrah. Ftirah manusia menjadi sejati adalah menjadi subjek manusia merdeka dan manusia bebas. Kesemuanya sering di sebut dengan tujuan humanisme Paulo Freire. Freire juga menyebutkan bahwa pendidikan seharusnya berorientasi kepada pengenalan realitas dan dirinya. Hal itu berarti bahwa pendidikan bukan hanya sebagai ajang transfer of knowledge, akan tetapi bagaimana ilmu pengetahuan di jadikan sarana untuk mendidik manusia agar mampu membaca realitas sosial. Pada akhirnya melakukan proses pendidikan dan pencerahan kepada setiap manusia agar tidak terkungkung dalam kubangan kesadaran naif adalah tugas atau misi kemanusiaan yang mulia. Hal ini di sebabkan karena memerdekakan manusia dan menyelamatkan bumi dari kerusakan adalah firah manusia sebagai mahluk yang di bekali dengan hati untuk merusak dan otak untuk berfikir.[2]

Kita dapat merumuskan bahwa konsep rumusan manusia Indonesia yang berpendidikan adalah sekaligus manusia yang berbudaya. Oleh sebab itu praksis pendidikan Indonesia haruslah memenuhi berbagai kriteria antara lain yaitu praksis pendidikan haruslah dan perlu mengembangkan potensi intelektual manusia Indonesia secara umum serta kaitan kemampuan tersebut dalam kehidupan nyata dalam lingkungan yang luas, Pendidikan nasional berperan dalam pengembangan potensi yang spesifik dari individu sesuai dengan potensi kepribadiannya, Pendidikan nasional juga harus mengajarkan moralits dengan mengembangkan budaya sopan dan santun dalam pergaulan bermasyarakat, serta beriman dengan Tuhan Yang Maha Esa, Praksis pendidikan nasional juga non diskriminatif, biaya terjangkau serta mengajarkan harus mengembangkan rasa kebangsaan atau nasionalisme.[3]

Membicarakan persoalan pendidikan yang berangkat dari sistem pendidikan nasional cukup pelik, karena masih banyak persoalan yang mengemuka di lapangan antara lain yaitu Pemerintah melepaskan tanggung jawabnya secara penuh untuk membiayai sektor penting yaitu pendidikan, karena tanggungan biaya pendidikan sebagian di tanggung oleh masyarakat sedangkan jumlah mayoritas rakyat indonesia masih dalam keadaan miskin 31 juta jiwa pada maret 2009 ( data bps yang di sampaikan oleh rusman heriawan kepala bps ri )[4] dan ini bertentangan dengan amanat undang-undang dasar yaitu pasal 31 ayat 1 uud 1945[5] yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak atas pendidikan. Bagaiamana mungkin seorang miskin mampu membiayai pendidikan dirinya atau anaknya apabila hak dari konstitusi tererjawantahkan bahwa masyarakat mempunyai peran penting bahwa dalam uu sisdiknas pasal 9[6] bahwa masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan, bentuk sumber daya tersebut salah satunya termasuk uang, barang dan sarana penunjang laennya.

Aplikasi dana pendidikan sebagaimana amanat undang-undang dasar pasal 31 ayat 4 bahwa anggaran untuk pendidikan sekurang-kurangnya 20% belum murni untuk pendidikan, karena seharusnya di gunakan untuk peningkatan kualitas pendidikan yaitu dengan pembangunan infranstruktur pendidikan dan sehrusnya alokasi penggajian guru dan pns pendidikan tidak masuk kedalam alokasi apbn untuk pendidikan, melainkan alokasi gaji guru dan pns pendidikan masuk kedalam apbn belanja pegawai negeri, Jadi dasar dalam alokasi gaji guru dan pns pegawai negeri ini yang di dasarkan pasal 49 uu no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional harus di revisi[7].

Tingginya jumlah angka pengaguran terdidik kita setiap tahunnya yaitu data bps menyebutkan bahwa jumlahnya Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja pada Agustus 2009 mencapai 113,83 juta orang atau naik 1,88 juta dibandingkan dengan Agustus 2008 (111,95 juta). Sementara penduduk yang bekerja pada Agustus 2009 mencapai 104, 49 juta orang atau naik 2,32 juta dari 102,87 juta. Dengan demikian, jumlah pengangguran pada Agustus 2009 mencapai 8,96 juta atau 7,87 persen dari total angkatan kerja (H383juta). Angka pengangguran turun dibandingkan dengan 2008 yang mencapai 8,39 persen. Namun, penggangguran lulusan SMA, diploma (D-I/D-III), dan S-i meningkat, masing-masing 0,19 persen, 2,45 persen, dan 0,49 persen. "Padahal komposisi pengangguran dari SMA/SMK. diploma, hingga sarjana lebih dari. 55 persen dari total pengangguran. Komposisi pengangguran lulusan SMA mencapai 14,50 persen, SMK 14,59 persen, Diploma I sampai III 13,66 persen, dan S-i 13,08 persen. Sisanya lulusan SMP, SD, dan tidak lulus SD," [8].jikalau kita sistematiskan secara angka yaitu jumlahnya Pengangguran terdidik kembali mendapat sorotan. Ini karena sejak tahun 2006 hingga 2009 jumlah penganggur lulusan universitas merangkak naik. Tahun 2006 jumlah penganggur lulusan universitas 375,600 orang; tahun 2007: 409,900; tahun 2008: 626,200; dan tahun 2009: 626,600 (Media Indonesia, 20-8-2009).[9]

Persoalan lainya seharusnya adanya pemerataan dalam sistem pendidikan nasional yaitu menciptakan dikotomi atau pembedaan terhadap pendidikan. Munculnya istilah Sekolah Berstandar Internasional sebetulnya tidak lepas dari hasil kerja kapital global yang ingin mencari legitimasi untuk menjual produk-produk jasa mereka, khususnya jasa pendidikan dan pelatihan. Penjelasana ini yaitu merupakan amanat pasal 50 ayat 3 uu sisdiknas yaitu setiap daerah minimal mempunyai satu pendidikan bertaraf internasional, sedangkan amanat uud 1945 pasal 31 ayat 3 bahwa pemerintah menyelenggarakan dan mengusahakan pendidikan yang satu sistem pendidikan nasional. Dalam proses mempersiapkan menjadi sekolah berstandar Internasional atau di sebut dengan RSBI ( rintisan sekolah berstandar internasional ) satu SMA yang di tunjuk menjadi SBI mendapat dana sebesar 400-500 juta rupiah, sedangkan untuk tingkat smp sebesar Rp 350 juta rupiah, rsbi membuat perjenjangan pendidikan nasional dan melanggar konstitusi.[10] Sedangkan sisi lainya adalah tentang jumlah sarana penujang belajar mengajar masih dalam taraf yang memprihatinkan bahawa masih ada sejumlah 200.000 gedung sd atau sederajatnya yang masih rusak dan ada 12.000 gedung smp atau sederajatnya yang masih rusak pula, belum lagi jumlah laboratorium atau perpustakaan yang di beberapa sekolah belum memiliki.[11] Sebuah diskriminasi pembangunan terhadap pendidikan Indonesia.

Persoalan lainnya adalah masalah adanya evaluasi belajar nasioanal dalam ujian nasional yang menjadi momok tersendiri, artinya peserta didik yang mendapat peringkat pertama di kelas sekalipun dapat gagal karena UN. Hal ini di karenakan jikalau mereka mendapat nilai di bawah standar,ia harus menunggu satu tahun lagi untuk melanjutkan studinya atau mengikuti kejar program paket c atau b. Sedangka guru sendiri tidak memiliki sedikit pun kewenangan mengenai hasil UN. Pendidikan yang telah lama di jalani kandas oleh hasil ujian kurang lebih dalam waktu 3 hari. Seorang guru juga telah kehilangan kedaulatannya. Artinya pergaulan, pendidikan dan senda gurau yang telah berlangsung tidak di hargai oleh pemerintah. Sedangkan sisi lainya adalah tentang jumlah sarana penujang belajar mengajar masih dalam taraf yang memprihatinkan bahawa masih ada sejumlah 200.000 gedung sd atau sederajatnya yang masih rusak dan ada 12.000 gedung smp atau sederajatnya yang masih rusak pula, belum lagi jumlah laboratorium atau perpustakaan yang di beberapa sekolah belum memiliki.[12] Sebuah diskriminasi pembangunan terhadap pendidikan Indonesia.

Pemerintah melaui UN telah menjadi hakim yang dapat memutuskan semuanya. Padahal sesuai pasal 5 ayat 1 dan pasal 61 ayat (2) UU sisdiknas, seharusnya evaluasi hasil belajar dan penentu pada kelulusan peserta didik di lakukan oleh guru dan satuan pendidikan sekolah.[13] Dalam uu sisdiknas tidak di atur secara tegas tentang evaluasi belajar, karena dalam pasal 59 ayat 3 bahwa untuk evaluasi masyarakat dan organisasi profesi dapat melakukan evaluasi belajar, itu artinya evaluasi hasil belajar semisal tes toefel yang dapat di selenggarakan oleh badan-badan yang mandiri dan kredibel.

Persoalan bongkar pasang kurikulum pendidikan. Sebagaimana kita ketahui bersama, kurikulum akan selalu berganti menurut selera menteri baru. Lebih dari itu bongkar pasang kurikulum hanya menjadi proyek orang-orang tertentu untuk menggelembungkan dana, yang pada akhirnya di korupsi untuk kepentingan pribadi dan golongan.[14]


[1] Tirani kapital dalam pendidikan “ menolak uu bhp “, darmaningtyas, pustaka yashiba, Jakarta, 2009, hal 18.

[2] Agenda Pendidikan Nasional, Benni Setiawan, Aruzz Media, Jogjakarta,2008, hal 75-76

[3] Pendidikan, kebudayaan dan masyarakat madani Indonesia, Prof Tillar, Remaja Rossda karya, Bandung, 1999, hal 139-140

[4] Tribun news.com, kamis 1 juli 2010

[5] Uud dasar 1945 dan amandemennya pasal 31 ayat 1, nuansa mulia hal 30

[6] Uu sisdiknas no 20 tahun 2003

[7] Uu sisdiknas 20 tahun 2003 dan kompas hal 6 tentang mendesak revisi uu sisdiknas oleh darmaningtyas edisi senin 16 agutus.

[8] Bataviase.co.id

[9] Social workers.co.id

[10] Tirani kapital dalam pendidikan “ menolak uu bhp “, darmaningtyas, pustaka yashiba, Jakarta, 2009, hal 232

[11] Kompas edisi 16 agustus halaman 6

[12] Kompas edisi 16 agustus halaman 6

[13] Agenda Pendidikan Nasional, Benni Setiawan, Aruzz Media, Jogjakarta,2008, hal 139-140

[14] Agenda Pendidikan Nasional, Benni Setiawan, Aruzz Media, Jogjakarta,2008, hal 86