Minggu, 09 Mei 2010

Cerita tentang Sore itu………………….


Sore itu mendung tidak kunjung reda, meskipun hujan sudah selesai membasahi bumi dewata. Mendung tidak membuat diriku mengurungkan niat untuk berolahraga air ( berenang ) sambil berpelesir sore, apalagi ide untuk berolahraga air datang dari seorang yang telah menemani langkahku hampir 5 bulan belakangan ini. Meskipun air dari langit kembali membasahi aspal-aspal jalan tidak menghentikan laju sepeda motor yang kami naiki. Akhirnya langkah sepeda motor terhenti di sebuah tujuan kami sore itu, kolam air yang luas dan warung-warung makan berjejer rapi adalah pemandangan yang selalu terpampang jelas di tempat yang selalu menjadi objek berolahraga dalam air . Namun ada seseuatu hal yang beda dari biasanya yang membuatku takjub dan sekaligus bertanya-tanya dalam hati. Selintas nampak segerumulan anak-anak kecil yang asik berlatih renang, ternyata bukan ansih latihan renang yang mereka lakukan. Dari gerakan renang yang di lakukan tampak jelas bahwa mereka saling berlomba untuk mencapai finish yang terdepan dan instruksi pelatih dari pinggir kolam tidak letih menyemangati anak-anak didiknya. Bahkan orang tua yang mendampingi anak-anaknya yang berada di pelataran kolam renang, juga memberikan eskpresifitas tertentu.Hal ini dapat terlihat dari wajah ceria mereka yang menyaksikan anaknya dapat mendahului kawannya dan juga kemurungan saat anaknya tertingal jauh dari pergerakan kawannya.

Sungguh luar biasa yang ku saksikan sore itu, tetapi bukan hanya pemandangan itu yang membuat hati ini takjub dan bergetar. Melainkan ada sesuatu sisi, dimana terdapat seorang bocah kurus kecil dengan sebuah kaca mata renang warna biru. Saya jadi bernostalgia dengan sosok Ricard Sambera ( perenang ternama Indonesia yang mengharumkan Ibu Pertiwi di kancah Internasional lewat prestasinya), Meskipun saya mendeskripsikannya dengan seorang tokoh sekaliber Ricard Sambera, namun tidak membuatnya selalu terdepan di bandingkan kawan-kawan sebayanya pada perlombaan sore itu. Baik gaya dada, bebas, kupu-kupu, bahkan hingga gaya punggung, selalu membuatnya terjebak di juru kunci. Sungguh hari yang malang buat bocah itu, Apa yang anak itu rasakan saat dirinya harus menahan pil pahit terpecundangi berkesinambungan di lintasan air tersebut? Mungkin marah , benci, dendam atau mungkin termotivasi untuk meningkatkan kualitas berenangnya di lain kesempatan dan berjanji untuk balik mempecundangi kawan-kawannya yang hari ini tertawa riang melihat kegelisahannya. Bagiamana juga perasaan ibu bocah tersebut, yang menyasikan anaknya hanya menjadi penggembira lintasan air sore itu? Ibu tetaplah seorang manusia biasa, meskipun mentalnya sekuat baja dalam menghadapi getirnya kehidupan, tetapi akan bergejolak terluka di saat menyaksikan buah hatinya tidak kuasa memberikan yang terbaik buat dirinya dan bunda nya yang selalu setia mendampinginya. Biarlah cerita ini menjadi pembelajaran indah akan arti kemenanangan dan kegagalan buat kita semua. Niscaya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi wahana memotivasi diri untuk menata ulang kembali langkah gerak agar sesuai dengan tujuan ideal yang kita cita-citakan.

Sabtu, 08 Mei 2010

Rahasia dibalik Keindahan Desa


Akhirnya pagi pun tiba, meskipun aku terbangun bukan karena matahari sudah mulai naik untuk menyinari bumi tetapi bunyi handphone tidak henti bersautan. Aku coba beranjak dari kasur untuk membangunkan tubuh yang selalu datang malasnya, apabila bertemu dengan hari minggu. Handphone ini nampaknya sulit diatur karena tidak lelah untuk terus berdering. Aku raih handphone untuk melihat siapa yang menjadi aktor intelektual yang menggangu tidurku minggu itu ? Seorang kawan ternyata mendalangi serangkain aksi terror pagi itu, namun untung bukan hanya teror yang dia tujukan untuk menggangu pagiku melainkan ada sebuah kabar indah yang dikirim olehnya.

Kabar indah itu bukan tentang cinta yang biasanya menjadi obrolan hangat muda-mudi zaman ini. Ajakan untuk menemani seorang kawan berpetualang pagi ke sebuah desa , sekaligus bekerja melakukan sebuah penelitian adalah sebuah kabar indah pagi itu yang saya terima. Meskipun kabar indah itu juga membuat hati bergejolak kencang, karena daerah yang akan saya singgahi terjadi pergulatan keras akibat kontroversi dalam merebutkan kekuasaan. “ Terkadang aku muak melihat fenomena menjangkit ibu pertiwi hari ini yang selalu di warnai perebutan kekuasaan yang tidak bersandar nilai-nilai etika dan moral. Tujuan kekuasaan untuk mensejahterakan masyarakat secara komunal, sudah di selewengkan hanya di nikmati oleh segelintir individu” . Sudahlah aku tidak mau merusak pikiran ku pagi hari ini dengan persoalan politik yang tidak pernah tuntas di tanah pertiwi yang membesarkanku menjadi seorang insan.Walaupun agak khawatir dengan keamanan yang dapat mengancam suatu saat, Aku teruskan langkah ini untuk menemui seoarang kawan yang mengajakku untuk bersenang ria pagi ini, seperti yang dia janjikan kepadaku melalui perantara handphone.

Kesepakatan langsung terjadi untuk melanjutkan langkah gerak menuju desa yang menjadi tujuan kami pagi hari itu. Otakku sudah tidak sabar untuk segera sampai di desa tersebut. Entah mengapa hati sanubari selalu memancarkan kesenangan apabila beranjak ke desa untuk melawan kepenatan aktivitasku yang di habiskan oleh ramainya kota. Khayalanku melayang seputaran hijaunya hamparan padi yang terpampang luas , kaum muda-mudi desa tertawa lepas tanpa beban yang mengganjal di kepalanya dan senyum manja petani desa yang bergelora dalam mengelola sawahnya agar mampu memberikan nafkah bagi masyarakat secara komunal melalui kemenangan panennya. Hal ini terus memompa semangatku, karena sejauh ini jarang sekali aku menikmati pengalaman terjun ke impianku pagi itu. Sebab semua yang aku imajinasikan lebih banyak aku nikmati dari sebuah bacaan. Meskipun kenikmatan ke desa pagi ini juga bukan pengalaman pertama bagiku tetapi biarlah karena desa adalah surga bagi seluruh pengagumnya.
Sebuah plang tanda jalan menunjukan bahwasanya diriku hampir tiba ke desa tujuan kami, tetapi matahari juga nampaknya tidak mau bersahabat pagi ini. Pancaran sinar matahari cukup membuat baju ini bergelimang mandi keringat. Biarlah keringat tidak henti mengalir namun jangan sampai semangat ini luntuh. Aspal jalanpun sudah sedikit menuju penghabisan, berganti dengan jalan tanah yang bergelombang. Nampaknya desa tujuan kami semakin mendekat. Akhirnya papan nama desa menunjukan bahwa kami sudah tiba di tujuan yang menggelora hati kecilku. Ternyata benar apa yang aku khayalkan tadi, dimana terpampang jelas hamparan sawah yang hijau, kaum petani yang bersenang ria bersama kerbaunya untuk menggarap sawahnya menjadi produktif, dan muda mudi yang bercanda ria dengan lepas tanpa beban. Ingin rasanya mulut berteriak atas kesuka citaan pagi ini di desa. Aku sangat menikmati anugrah indah tuhan yang di ciptakan kepada desa yang merupakan mayoritas wilayah tanah air.

Kebahagian yang meluap tidak terkontrol ini, hampir saja membuat kami lupa salah satu bagian perjalanan ke desa yaitu penelitian. Kami coba menghampiri beragam penduduk desa, namun entah mengapa pandangan selalu tujukan kepada petani. Mungkin karena petani adalah kumpulan orang tulus yang tidak lelah berkorban besar untuk kehidupan bangsa, meskipun mereka juga acapkali menjadi korban kekejaman bangsanya. Kami akhirnya bersepakat mereka akan di jadikan responden. Satu persatu lontran pertanyaan kami ajukan kepada sepasang petani tulus desa tersebut. Tiba juga akhirnya pertanyaan kunci kami tentang bagaimana penghasilan dan kehidupan yang mereka peroleh selama ini?. Jawabanpun terucap dari mulut mereka yang jujur, hanya kisaran 300-500 ribu sebulan penghasilan mereka dapatkan. Rasanya mata ingin berkucuran air , mendengar penuturan petani akan kesulitan hidupnya. Sungguh berbanding terbalik dengan pengorbanan yang dia berikan. Kondisi yang di alami oleh petani desa tersebut, tidak jauh berbeda dengan kebanyakan petani di Seluruh penjuru nusantara. Tersimpan pertanyaan besar dalam hati kecilku. Siapa yang harus bertanggung jawab atas ketidak berdayaan kaum petani ?.Sampai kapan mereka harus terjebak dalam kemiskinan berkala ini ?. Biarlah ini menjadi rahasia yang sulit terungkap hingga kiamat mendatangi kita.

Cerita ini hanyalah sebuah cerminan kecil akan kegelisahan nasib ibu pertiwi. Apakah kita akan terus terhanyut dalam dongeng bahwa kita adalah bangsa gemah ripah loh jinawi ( kaya raya atas sumber daya alam ) atau segera bergerak nyata mengabdi demi terciptanya keadilan sosial. Nampaknya ini menjadi pekerjaan rumah besar seluruh segenap komponen bangsa. Kisah sedih ini juga merefleksi bahwa sudah saatnya kaum inteektual muda turun dan bergerak ke dalam kegelisahan masyarakat dengan menggunakan keilmuan yang di miliki