
Akhirnya pagi pun tiba, meskipun aku terbangun bukan karena matahari sudah mulai naik untuk menyinari bumi tetapi bunyi handphone tidak henti bersautan. Aku coba beranjak dari kasur untuk membangunkan tubuh yang selalu datang malasnya, apabila bertemu dengan hari minggu. Handphone ini nampaknya sulit diatur karena tidak lelah untuk terus berdering. Aku raih handphone untuk melihat siapa yang menjadi aktor intelektual yang menggangu tidurku minggu itu ? Seorang kawan ternyata mendalangi serangkain aksi terror pagi itu, namun untung bukan hanya teror yang dia tujukan untuk menggangu pagiku melainkan ada sebuah kabar indah yang dikirim olehnya.
Kabar indah itu bukan tentang cinta yang biasanya menjadi obrolan hangat muda-mudi zaman ini. Ajakan untuk menemani seorang kawan berpetualang pagi ke sebuah desa , sekaligus bekerja melakukan sebuah penelitian adalah sebuah kabar indah pagi itu yang saya terima. Meskipun kabar indah itu juga membuat hati bergejolak kencang, karena daerah yang akan saya singgahi terjadi pergulatan keras akibat kontroversi dalam merebutkan kekuasaan. “ Terkadang aku muak melihat fenomena menjangkit ibu pertiwi hari ini yang selalu di warnai perebutan kekuasaan yang tidak bersandar nilai-nilai etika dan moral. Tujuan kekuasaan untuk mensejahterakan masyarakat secara komunal, sudah di selewengkan hanya di nikmati oleh segelintir individu” . Sudahlah aku tidak mau merusak pikiran ku pagi hari ini dengan persoalan politik yang tidak pernah tuntas di tanah pertiwi yang membesarkanku menjadi seorang insan.Walaupun agak khawatir dengan keamanan yang dapat mengancam suatu saat, Aku teruskan langkah ini untuk menemui seoarang kawan yang mengajakku untuk bersenang ria pagi ini, seperti yang dia janjikan kepadaku melalui perantara handphone.
Kesepakatan langsung terjadi untuk melanjutkan langkah gerak menuju desa yang menjadi tujuan kami pagi hari itu. Otakku sudah tidak sabar untuk segera sampai di desa tersebut. Entah mengapa hati sanubari selalu memancarkan kesenangan apabila beranjak ke desa untuk melawan kepenatan aktivitasku yang di habiskan oleh ramainya kota. Khayalanku melayang seputaran hijaunya hamparan padi yang terpampang luas , kaum muda-mudi desa tertawa lepas tanpa beban yang mengganjal di kepalanya dan senyum manja petani desa yang bergelora dalam mengelola sawahnya agar mampu memberikan nafkah bagi masyarakat secara komunal melalui kemenangan panennya. Hal ini terus memompa semangatku, karena sejauh ini jarang sekali aku menikmati pengalaman terjun ke impianku pagi itu. Sebab semua yang aku imajinasikan lebih banyak aku nikmati dari sebuah bacaan. Meskipun kenikmatan ke desa pagi ini juga bukan pengalaman pertama bagiku tetapi biarlah karena desa adalah surga bagi seluruh pengagumnya.
Sebuah plang tanda jalan menunjukan bahwasanya diriku hampir tiba ke desa tujuan kami, tetapi matahari juga nampaknya tidak mau bersahabat pagi ini. Pancaran sinar matahari cukup membuat baju ini bergelimang mandi keringat. Biarlah keringat tidak henti mengalir namun jangan sampai semangat ini luntuh. Aspal jalanpun sudah sedikit menuju penghabisan, berganti dengan jalan tanah yang bergelombang. Nampaknya desa tujuan kami semakin mendekat. Akhirnya papan nama desa menunjukan bahwa kami sudah tiba di tujuan yang menggelora hati kecilku. Ternyata benar apa yang aku khayalkan tadi, dimana terpampang jelas hamparan sawah yang hijau, kaum petani yang bersenang ria bersama kerbaunya untuk menggarap sawahnya menjadi produktif, dan muda mudi yang bercanda ria dengan lepas tanpa beban. Ingin rasanya mulut berteriak atas kesuka citaan pagi ini di desa. Aku sangat menikmati anugrah indah tuhan yang di ciptakan kepada desa yang merupakan mayoritas wilayah tanah air.
Kebahagian yang meluap tidak terkontrol ini, hampir saja membuat kami lupa salah satu bagian perjalanan ke desa yaitu penelitian. Kami coba menghampiri beragam penduduk desa, namun entah mengapa pandangan selalu tujukan kepada petani. Mungkin karena petani adalah kumpulan orang tulus yang tidak lelah berkorban besar untuk kehidupan bangsa, meskipun mereka juga acapkali menjadi korban kekejaman bangsanya. Kami akhirnya bersepakat mereka akan di jadikan responden. Satu persatu lontran pertanyaan kami ajukan kepada sepasang petani tulus desa tersebut. Tiba juga akhirnya pertanyaan kunci kami tentang bagaimana penghasilan dan kehidupan yang mereka peroleh selama ini?. Jawabanpun terucap dari mulut mereka yang jujur, hanya kisaran 300-500 ribu sebulan penghasilan mereka dapatkan. Rasanya mata ingin berkucuran air , mendengar penuturan petani akan kesulitan hidupnya. Sungguh berbanding terbalik dengan pengorbanan yang dia berikan. Kondisi yang di alami oleh petani desa tersebut, tidak jauh berbeda dengan kebanyakan petani di Seluruh penjuru nusantara. Tersimpan pertanyaan besar dalam hati kecilku. Siapa yang harus bertanggung jawab atas ketidak berdayaan kaum petani ?.Sampai kapan mereka harus terjebak dalam kemiskinan berkala ini ?. Biarlah ini menjadi rahasia yang sulit terungkap hingga kiamat mendatangi kita.
Cerita ini hanyalah sebuah cerminan kecil akan kegelisahan nasib ibu pertiwi. Apakah kita akan terus terhanyut dalam dongeng bahwa kita adalah bangsa gemah ripah loh jinawi ( kaya raya atas sumber daya alam ) atau segera bergerak nyata mengabdi demi terciptanya keadilan sosial. Nampaknya ini menjadi pekerjaan rumah besar seluruh segenap komponen bangsa. Kisah sedih ini juga merefleksi bahwa sudah saatnya kaum inteektual muda turun dan bergerak ke dalam kegelisahan masyarakat dengan menggunakan keilmuan yang di miliki
Kondisi memilukan di negeri yang katanya menganut konsepsi kehidupan agraris, namun hingga ini kesejahteraan petani memprihatinkan..
BalasHapus