
Sepenggal cerita yang berangkat dari Pengalaman membuat kita semakin meresapi makna kehidupan.
Pagi itu menunjukan pukul 04.30, segenap tubuh beranjak penuh gelora untuk menyambut sebuah pengalaman baru yang akan di jalani. Pengalaman yang mungkin tidak akan terfikirkan beranjak dari hati dan sanubari sampai dengan jasad meninggalkan ragaku. Maklum ini pertama kalinya diriku akan menempuh perjalanan panjang menggunakan kereta bersama rekan sejawat yang visioner dan progresif untuk menatap Indonesia yang berdikari. Aku rogoh kantong celanaku untuk mengambil sebatang rokok yang bersemayam di dalam bungkus lusuh karena tertimpa badanku saat terlelap semalam. Satu per satu kawan seperjuang terbangun dari mimipinya, perbincangan dari beragam topik mengalir dari mulut kami yang aromanya tidak sedap. Wajarlah pasta gigi belum tersentuh oleh komponen dalam rongga mulut kami, hal ini dikarenakan pintu masuk kedalam stasiun belum terbuka. Percakapan penuh kecerian suasana terhenti saat seseorang berujar “ kita harus menghitung beberapa banyak logistickyang kita bawa untuk sampai di ibukota “. Ternyata memang benar kami “mahasiswa” yang mempunyai kocek minim untuk sampai pada sebuah tujuan besar, tetapi hal ini kami anggap sebuah pengorbanan yang berangkat di dasarkan keyakinan perjuangan. Akhirnya seorang karyawan stasiun membuka pintu gerbang masuk kedalam, yang menandakan bahwa loket pembelian karcis kereta sudah di buka. Berdua dengan seorang kawan berinisiatif untuk mengumpulkan uang dari kami semua untuk segera membeli tiket kereta kelas ekonomi agar tidak kehabisan tempat duduk, wajar saja kereta ekonomi merupakan alat transportasi termurah di Indonesia yang selalu ramai peminatnya . Jadi apabila harus berdesak-desakan atau bahkan tidak mendapatkan tempat duduk sampai dengan daerah tujuan adalah hal yang lumrah terjadi di tranportasi massal Indonesia yang satu ini. Namun fakta yang menggambarakan kereta api ekonomi tidak nyaman dan kondusif untuk di gunakan, tidak mengurangi semangatku untuk menyicipi perjalanan panjang dengan kereta ekonomi karena aku yakin banyak pelajaran berharhga yang aku petik di dalam kendaraan yang di kemudikan oleh masinis.
Waktu beputar dengan cepatnya hingga tidak terasa jam dinding stasiun banyuwangi menunjukan pukul 06.00 WIB yang beriringan dengan menggelegarnya pengeras suara untuk memberitahukan bahwa kereta yang kami gunakan akan segera meninggalkan stasiun tersebut. Langkah kaki kami percepat untuk bergegas menaiki gerbong kereta sesuai yang tercantum di dalam karcis, satu demi satu kami telusuri bangku-bangku yang terdapat dalam lorong gerbong tersebut. Akhirnya kami dapatkan bangku yang mampu menampung badan-badan kami, yang hampir di antaranya bertubuh tambun. Pasca kami berada di dalam kereta suasana dan pengalaman baru tidak lama kami dapatkan yaitu bergerumul dengan orang-orang dari latar belakang kehidupan yang berbeda, kemudian juga di iringi suara yang mereka silih berganti menawarkan dagangannya untuk mencari sesuap penghidupan dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Barang yang mereka jajakan pagi hari itupun beragam, dari mulai Koran, minuman, nasi hangat plus lauk pauk, rokok beserta permen. Saya berfikir dalam hati “ah paling yang di jajakan bekisar kebutuhan perjalanan penumpang, semisal makanan, minuman, rokok dan sejenis nya. Aku cermati secara seksama penumpang yang ada di sekitarku, beberapa di antaranya tertarik untuk membeli barang dagangan yang dijajakan. Kereta tidak lamapun beranjak dari stasiun banyuwangi, sekaligus aku buka jendela di sebalahku agar dapat aku nikmati semilirnya hembusan angin dari luar gerbong.
Beragam pemandangan aku perhatikan secara detail ada hamparan sawah berwarna hijau seakan melambai penuh mesra kehadapanku, rongga hati ini pun berucap “ sungguh indahnya ibu pertiwi dimana sebagian besar wilayahnya terhampar areal persawahan yang tumbuh subur” sebagaimana terdoktrin dalam setiap uraian cerita guruku semasa kecil yaitu bahwa Indonesia adalah negeri agraris. Namun fakta ini tidak pernah di dukung oleh keseriusan pemangku kebijakan dalam memperhatikan nasib pahlawan tani yang memberikan penghidupan layak untuk seluruh rakyat Indonesia melalui hasil bumi yang dia tanam. Fakta ini tergambarkan dalam pengamatan saya pagi itu, bahwa hampir sebagian besar petani Indonesia masih menggunakan alat tradisionil dan sederhana untuk menggarap sawahnya. Hanya segelintir petani yang menggunakan mesin-mesin modern untuk membajak tanah untuk di jadikan sawah yang subur atau bahkan untuk menggarap hasil panennya. Bagaimana negara kita tidak tertinggal dari negara-negara tetangga kita dalam bidang pertanian. Bahkan ketidakseriusan pemegang amanat rakyat adalah dengan bangganya membuat kebijakan membanjiri produk import pertanian kedalam bumi pertiwi, tidak ada proteksi untuk menyelamatkan pasar dalam negeri. Penduduk Indonesia bersandar kehidupannya dari di sektor pertanian berjumlah 46 % ( data BPS tahun 2003 ) akan tergerus oleh kemiskinan yang tidak pernah di fikirkan oleh petinggi negeri ini. Ironis memang mempunyai pemimpin bangsa kehilangan rasa kepedulian terhadap rakyat yang di wakilinya. Persoalan ini juga seharusnya di fikirkan oleh kaum intelektual yang menikmati layaknya megahnya gedung perkuliahan, tanpa kaum petani dan marginal lainnya intelektual muda tidak akan merasakan gemerlapnya bangku perkuliahan karena dari keringat merekalah di bayarkannya pajak untuk membangun institusi pendididkan. Tidak berasa laju keretapun berhenti di sebuah stasiun baru. Hiruk pikuk pedagang lalu lalang tanpa kenal lelah, wajar saja mereka bersandar nafkah penghidupannya dari berhentinya kereta di setiap stasiun. Sekarang paradigm berfikirku berubah ternyata dagangan yang di jajakan tidak hanya kebutuhan perjalanan penumpang, melainkan hampir semua kebutuhan hidup seseorang di jajakan. Sebuah fenomena baru yang tidak mungkin aku dapatkan apabila perjalanan kami pilih normatif dan bernuansa populis. Meskipun gerbong kereta terasa semakin sumpek tidak membuat hati ini merasakan ketidaksenangan, karena ini adalah realita bangsa yang harus kita resapi sebagai generasi penerus bangsa agar nanti apabila tonggak perjuangan di amanatkan, kami tidak akan lupa terhadap mereka yang termarginalkan karena mereka menitipkan amanat penderitaannya untuk kami perjuangkan.
Masinis kereta melanjutkan kembali untuk memimpin perjalanan pagi hari itu. Pemandangan hamparan sawah berganti dengan padatnya rumah-rumah perkotaan yang saling berhimpitan. Sebuah fenomena yang terjadi hampir di seluruh perkotaan republik ini, pikiranku melayang bersama anganku “ apakah mereka hidup berkeseharian di dalam rumah-rumah kecil yang saling berhimpitan dapat menikmati kenyamanan “. Sedih, marah dan gundah menyelimuti rasa ini ketika memperhatikan ketidakadilan yang baru saja terlihat. Dimana konsepsi keadilan sosial yang tercantumkan dalam falsafah bangsa “ pancasila “. Kenapa mereka yang memberikan devisa buat bangsa ini melalui kucuran keringat,dimana hasilnya tersalurkan melalui pajak tidak pernah di perhatikan ? Kemana kekayaan alam bangsa yang secara legalitas formil sebagaimana amanat UUD 1945 seharusnya di pergunakan untuk kesejahteraan rakyat ? Mereka sangat biadab menjadi penghisap saudara sebangsanya sendiri. Hampir sebagian besar hasil kekayaan alam lari di bawa kabur keluar negeri dan terhisap oleh para cukong ( berkedok pejabat ) yang tidak pernah peduli akan nasib saudaranya. Memang benar apa yang di amanatkan oleh Putra Sang Fajar “ bung Karno “ bahwa perjuangan kalian akan jauh lebih sulit di bandingkan perjuangan kami, karena kalian akan berhadapan dengan penjajah dalam negeri “ saudara-saudara kita yang menjadi antek asing untuk menghisap keringat saudarnya “. Mari saudaraku kita reposisi alur gerakan mahasiswa agar tetap berada untuk memperjuangkan nasib mereka yang termarginalkan.
Pagi itu menunjukan pukul 04.30, segenap tubuh beranjak penuh gelora untuk menyambut sebuah pengalaman baru yang akan di jalani. Pengalaman yang mungkin tidak akan terfikirkan beranjak dari hati dan sanubari sampai dengan jasad meninggalkan ragaku. Maklum ini pertama kalinya diriku akan menempuh perjalanan panjang menggunakan kereta bersama rekan sejawat yang visioner dan progresif untuk menatap Indonesia yang berdikari. Aku rogoh kantong celanaku untuk mengambil sebatang rokok yang bersemayam di dalam bungkus lusuh karena tertimpa badanku saat terlelap semalam. Satu per satu kawan seperjuang terbangun dari mimipinya, perbincangan dari beragam topik mengalir dari mulut kami yang aromanya tidak sedap. Wajarlah pasta gigi belum tersentuh oleh komponen dalam rongga mulut kami, hal ini dikarenakan pintu masuk kedalam stasiun belum terbuka. Percakapan penuh kecerian suasana terhenti saat seseorang berujar “ kita harus menghitung beberapa banyak logistickyang kita bawa untuk sampai di ibukota “. Ternyata memang benar kami “mahasiswa” yang mempunyai kocek minim untuk sampai pada sebuah tujuan besar, tetapi hal ini kami anggap sebuah pengorbanan yang berangkat di dasarkan keyakinan perjuangan. Akhirnya seorang karyawan stasiun membuka pintu gerbang masuk kedalam, yang menandakan bahwa loket pembelian karcis kereta sudah di buka. Berdua dengan seorang kawan berinisiatif untuk mengumpulkan uang dari kami semua untuk segera membeli tiket kereta kelas ekonomi agar tidak kehabisan tempat duduk, wajar saja kereta ekonomi merupakan alat transportasi termurah di Indonesia yang selalu ramai peminatnya . Jadi apabila harus berdesak-desakan atau bahkan tidak mendapatkan tempat duduk sampai dengan daerah tujuan adalah hal yang lumrah terjadi di tranportasi massal Indonesia yang satu ini. Namun fakta yang menggambarakan kereta api ekonomi tidak nyaman dan kondusif untuk di gunakan, tidak mengurangi semangatku untuk menyicipi perjalanan panjang dengan kereta ekonomi karena aku yakin banyak pelajaran berharhga yang aku petik di dalam kendaraan yang di kemudikan oleh masinis.
Waktu beputar dengan cepatnya hingga tidak terasa jam dinding stasiun banyuwangi menunjukan pukul 06.00 WIB yang beriringan dengan menggelegarnya pengeras suara untuk memberitahukan bahwa kereta yang kami gunakan akan segera meninggalkan stasiun tersebut. Langkah kaki kami percepat untuk bergegas menaiki gerbong kereta sesuai yang tercantum di dalam karcis, satu demi satu kami telusuri bangku-bangku yang terdapat dalam lorong gerbong tersebut. Akhirnya kami dapatkan bangku yang mampu menampung badan-badan kami, yang hampir di antaranya bertubuh tambun. Pasca kami berada di dalam kereta suasana dan pengalaman baru tidak lama kami dapatkan yaitu bergerumul dengan orang-orang dari latar belakang kehidupan yang berbeda, kemudian juga di iringi suara yang mereka silih berganti menawarkan dagangannya untuk mencari sesuap penghidupan dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Barang yang mereka jajakan pagi hari itupun beragam, dari mulai Koran, minuman, nasi hangat plus lauk pauk, rokok beserta permen. Saya berfikir dalam hati “ah paling yang di jajakan bekisar kebutuhan perjalanan penumpang, semisal makanan, minuman, rokok dan sejenis nya. Aku cermati secara seksama penumpang yang ada di sekitarku, beberapa di antaranya tertarik untuk membeli barang dagangan yang dijajakan. Kereta tidak lamapun beranjak dari stasiun banyuwangi, sekaligus aku buka jendela di sebalahku agar dapat aku nikmati semilirnya hembusan angin dari luar gerbong.
Beragam pemandangan aku perhatikan secara detail ada hamparan sawah berwarna hijau seakan melambai penuh mesra kehadapanku, rongga hati ini pun berucap “ sungguh indahnya ibu pertiwi dimana sebagian besar wilayahnya terhampar areal persawahan yang tumbuh subur” sebagaimana terdoktrin dalam setiap uraian cerita guruku semasa kecil yaitu bahwa Indonesia adalah negeri agraris. Namun fakta ini tidak pernah di dukung oleh keseriusan pemangku kebijakan dalam memperhatikan nasib pahlawan tani yang memberikan penghidupan layak untuk seluruh rakyat Indonesia melalui hasil bumi yang dia tanam. Fakta ini tergambarkan dalam pengamatan saya pagi itu, bahwa hampir sebagian besar petani Indonesia masih menggunakan alat tradisionil dan sederhana untuk menggarap sawahnya. Hanya segelintir petani yang menggunakan mesin-mesin modern untuk membajak tanah untuk di jadikan sawah yang subur atau bahkan untuk menggarap hasil panennya. Bagaimana negara kita tidak tertinggal dari negara-negara tetangga kita dalam bidang pertanian. Bahkan ketidakseriusan pemegang amanat rakyat adalah dengan bangganya membuat kebijakan membanjiri produk import pertanian kedalam bumi pertiwi, tidak ada proteksi untuk menyelamatkan pasar dalam negeri. Penduduk Indonesia bersandar kehidupannya dari di sektor pertanian berjumlah 46 % ( data BPS tahun 2003 ) akan tergerus oleh kemiskinan yang tidak pernah di fikirkan oleh petinggi negeri ini. Ironis memang mempunyai pemimpin bangsa kehilangan rasa kepedulian terhadap rakyat yang di wakilinya. Persoalan ini juga seharusnya di fikirkan oleh kaum intelektual yang menikmati layaknya megahnya gedung perkuliahan, tanpa kaum petani dan marginal lainnya intelektual muda tidak akan merasakan gemerlapnya bangku perkuliahan karena dari keringat merekalah di bayarkannya pajak untuk membangun institusi pendididkan. Tidak berasa laju keretapun berhenti di sebuah stasiun baru. Hiruk pikuk pedagang lalu lalang tanpa kenal lelah, wajar saja mereka bersandar nafkah penghidupannya dari berhentinya kereta di setiap stasiun. Sekarang paradigm berfikirku berubah ternyata dagangan yang di jajakan tidak hanya kebutuhan perjalanan penumpang, melainkan hampir semua kebutuhan hidup seseorang di jajakan. Sebuah fenomena baru yang tidak mungkin aku dapatkan apabila perjalanan kami pilih normatif dan bernuansa populis. Meskipun gerbong kereta terasa semakin sumpek tidak membuat hati ini merasakan ketidaksenangan, karena ini adalah realita bangsa yang harus kita resapi sebagai generasi penerus bangsa agar nanti apabila tonggak perjuangan di amanatkan, kami tidak akan lupa terhadap mereka yang termarginalkan karena mereka menitipkan amanat penderitaannya untuk kami perjuangkan.
Masinis kereta melanjutkan kembali untuk memimpin perjalanan pagi hari itu. Pemandangan hamparan sawah berganti dengan padatnya rumah-rumah perkotaan yang saling berhimpitan. Sebuah fenomena yang terjadi hampir di seluruh perkotaan republik ini, pikiranku melayang bersama anganku “ apakah mereka hidup berkeseharian di dalam rumah-rumah kecil yang saling berhimpitan dapat menikmati kenyamanan “. Sedih, marah dan gundah menyelimuti rasa ini ketika memperhatikan ketidakadilan yang baru saja terlihat. Dimana konsepsi keadilan sosial yang tercantumkan dalam falsafah bangsa “ pancasila “. Kenapa mereka yang memberikan devisa buat bangsa ini melalui kucuran keringat,dimana hasilnya tersalurkan melalui pajak tidak pernah di perhatikan ? Kemana kekayaan alam bangsa yang secara legalitas formil sebagaimana amanat UUD 1945 seharusnya di pergunakan untuk kesejahteraan rakyat ? Mereka sangat biadab menjadi penghisap saudara sebangsanya sendiri. Hampir sebagian besar hasil kekayaan alam lari di bawa kabur keluar negeri dan terhisap oleh para cukong ( berkedok pejabat ) yang tidak pernah peduli akan nasib saudaranya. Memang benar apa yang di amanatkan oleh Putra Sang Fajar “ bung Karno “ bahwa perjuangan kalian akan jauh lebih sulit di bandingkan perjuangan kami, karena kalian akan berhadapan dengan penjajah dalam negeri “ saudara-saudara kita yang menjadi antek asing untuk menghisap keringat saudarnya “. Mari saudaraku kita reposisi alur gerakan mahasiswa agar tetap berada untuk memperjuangkan nasib mereka yang termarginalkan.
pengalaman saya ketika naik alat transportasi itu yang paling mencolok...
BalasHapusbetapa terlihatnya diskriminasi di bangsa ini.. jurang pemisah yang lebar antara si kaya dan si miskin itu sudah menjadi fakta yang tidak bisa kita pungkiri bersama...
kadang aset pemerintah adalah solusi terakhir. karena fasilitas dan servis yang diberikan pun tidak maksimal... bekerja yang ditanamkan sekarang bukan lah suatu bentuk pengabdian..
iyaaa bos, fakta yang tergambarkan nasib bangsa yang katana kaya raya, namun rakyatnya termiskinkan,, sudah saatnya kaum muda bergegas mengambil tongkat kepemimpinan bangsa dari rezim yang lalim
BalasHapusMantap Bung !!!!
BalasHapusEkonomi Kapitalis yg telah menjangkit di setiap saraf otak elit politk menggambarkan betapa rakyat miskin tambah miskin dan yang kaya tambah kaya.
tidak ada prinsip keadilan dan kesejahteraan untuk masyrakat menengah ke bawah...
Neo-liberal telah menjangkit, bahaya ini dirasakan atau tidak adalah bahaya Laten yang harus kita pecahkan secara bersama-sama...
ada idiom,
BalasHapuskalau mau cari orang bijak pergilah ke Athena,
kalau mau cari orang Kuat pergilah ke Roma,
Saat naik Sri Tanjung, Banyuwangi-Jogja saya dapat teman dari Rusia dan beridiom,
kalau mau cari nyaman naiklah eksekutif,
tapi kalau mau kenal keramahan Indonesia yg vulgar naiklah Ekonomi