Apakah Kita benar-benar mahasiswa ???????
“ Refleksi Kondisi Kehidupan Kampus Udayana”
Oleh : Adji Prakoso
“ Presiden BEM Udayana dan Kader GmnI Denpasar
Banyak Bicara, Banyak bekerja
“ Ir. Soekarno “
Pesan singkat bung karno yang tercantum dalam tulisan di atas merupakan sebuah pernyataan arif dan bijak kepada rakyat Indonesia agar sinergis antara berbicara dengan tindakan, khususnya dalam koridor kehidupan mengabdi untuk ibu pertiwi. Pesan bijak bung karno tersebut, tanpa terkecuali harus mampu di renungkan untuk mengaktualisasikannya dalam ruang lingkup ilmiah, khususnya di kehidupan intelektual seorang mahasiswa. Mengapa mahasiswa juga harus di bebankan sejarah pesan bung karno tersebut ? Hal ini di karenakan penyematan kata mahasiswa tidak hanya di peruntukan untuk kepentingan mencari ilmu bagi kepentingan seorang individu yang menempuh jenjang pendidikan tinggi, melainkan ada sebuah pesan moril label mahasiswa. Sejarah panjang dan pengakuan kebenaran secara ilmiah atas perjuangan ideal mahasiswa dalam mencatatakan tinta emas sejarah perjuangan suatu bangsa merupakan pesan moral yang harus di sematkan dalam pemberian gelar mahasiswa di setiap generasi.
Mahasiswa merupakan simbol perlawanan yang lugas atas kesewenang-wenangan terhadap keadaaan sosial, bahkan rakyat banyak menyandarkan harapan dan cita-cita atas keadilan sosial di punggung mahasiswa. Soe Hok Gie pun pernah berpesan : bahwa gerakan mahasiswa di analogikan sebagai koboy yang datang ke kota untuk membersihkan dan menumpas serangan perampok, namun saat perampok dapat di lumpuhkan sang koboy pun meninggalkan kota untuk menghindari popularitas. Jadi pesan moril yang juga di sampaikan oleh GIE bahwa mahasiswa harus mampu menjadi pioner perubahan dengan gerakan moral yang di bangun, tanpa mengharapkan pamrih atas perjuangannya. Mahasiswa harus terus membangun gerakan sosial ( moral force ) yang konsisten berpihak dalam perjuangan rakyat tertindas, serta harus teradaptasi dengan konteks zaman.
Namun apa yang terjadi dengan mahasiswa hari ini ? saya mencoba merenungkan, mengamati, merekam dan membuat sebuah analisa tentang kehidupan mahasiswa hari ini, khususnya yang terjadi di kampus tercinta Udayana. Apakah hari ini kita sudah benar-benar mengamalkan nilai atau panduan wajib seorang mahasiswa ? Kehidupan mahasiswa udayana hari ini tidak lagi “sehat” ( dalam tanda kutip ), pencerminan semangat agung seorang mahasiswa tidak lagi bersemayam dalam hati individu mahasiswa udayana. Mengapa saya berani mengambil kesimpulan seperti itu ? karena dari jumlah total mahasiswa udayana sekitar 20.000 yang hari ini terdaftar, hanya segelintir yang peduli akan kondisi kampus, bali dan nusantara. Hal ini tercermin sepinya peminat oraganisasi dan kegiatan mahasiswa di berbagai elemen, baik di tingkat jurusan, fakultas dan universitas. Mungkin apabila ada, tidak semuanya masuk ke dalam organisasi atau mengikuti kegiatan mahasiswa di landaskan dengan ketulusan berbuat banyak untuk kampus dan ibu pertiwi, sebagian besar di landasi keterpaksaaan yang mengikat karena skp atau kebutuhan biologis mencari pendamping ( pacar ) dan sebagian lainnya masuk ke organisaisi hanya terpaku untuk meningkatkan kualitas dirinya atau bahasa formil dalam setiap sesi interview alasan masuk organisasi mahasiswa, karena ingin belajar “ sungguh jawaban umum dan sangat biasa “.
Contoh lainnya yang bisa mendeskripsikan melencengnya pemahaman kehidupan ideal seoarang mahasiswa di udayana adalah saat sepinya peserta mimbar mahasiswa yang di adakan bem univ udayana sekitar bulan juli lalu untuk mengkritisi kebijakan dan kondisi kampus,. Bahkan saat ruang mengkritisi kebijakan kampus yang di fasilitasi BEM Udayana, diperluas dalam grand meeting yaitu berbicara satu forum dengan para elit birokrat seperti rektor,dekan dll mahasiswa yang hadir hanya segelintir orang dan sebagian besar hanya termenung menjadi penunggu kursi-kursi, hanya segelintir orang konsisten berteriak lantang untuk perbaikan udayana di depan rektor, itupun sebagian besar ketua-ketua lembaga mahasiswa. Sedangkan apabila kegiatan penerimaan mahasiswa baru, yang memiliki celah seorang senior untuk mejeng atau petantang petenteng di depan junior sangat di minati, bahkan baru hari pertama pembukaan kepanitian kapasitas panitia bisa langsung terpenuhi.
Apalagi kalau kegiatan di tujukan untuk menganalisa kondisi sosial di bali ataupun nusantara hanya segelintir orang yang peduli dalam kegiatan tersebut. Bahkan hanya orang-orang itu saja dan tidak tergantikan,yang jelas biasa menjadi penghuni diskusi aau kajian persoalan rakyat ! Dalam diskusi atau kajian persoalan rakyat saja sepi apalagi melakukan penyikapan pasca diskusi atau kajian, karena pilihannya harus berbenturan dengan kepentingan elit penguasa. Tetapi itulah seni ketulusan perjuangan mahasiswa idealnya berani melawan kesepian dan arus resiko perjuangan. Namun apabila kita siap dengan resiko perjuangan tulus pada saat menyandang status mahasiswa, niscaya akan menjadi pemimpin bangsa atau daerah suatu saat nanti yang mampu membawa rakyat dari ketertindasan, kemiskinan dan kebodohan.
Jadi siapa yang salah dalam perselingkuhan makna mahasiswa di Udayana ?. Banyak pihak yang terus memperlemah kehidupan ideal dan kritis mahasiswa, Jelas negara mempunyai kepentingan di belakang ini. Negara yang di representasikan dalam kampus oleh rektor, dekan dll mempunyai cara untuk membendung kondisi dinamis mahasiswa di kampus.
Mahasiswa di beratkan ansich oleh kehidupan akademis,namun tidak di berikan waktu maksimal untuk mengelola kehidupan organisasi mahasiswa, karena mahasiswa sudah di lelahkan oleh padatnya jadwal akademik. Selain itu negara melalaui kepanjangan tangannya di kampus juga melakukan pendekatan secara konsisten dan sistemik untuk melemahkan posisi tawar mahasiswa, banyak yang di berikan janji-janji manis untuk di bantu akademiknya, namun satu sisi harus menurut untuk mengikuti kebijakan elit kampus yang di buat sedangkan belum semua kebijakan berpihak kepada kehidupan dinamis seorang mahasiswa.
Selain itu faktor lemahnya pemahaman atas nilai ideal yang harus di miliki mahasiswa, karena hari ini sedikit mahasiswa yang mempunyai niat membaca atau menginvestasikan uangnya untuk membeli buku yang bermanfaat dan mempunyai nilai perjuangan ideal mahasiswa di dalamnya, seandainya membaca buku hanya bersifat normatif, terbatas yang berkaitan dengan perkuliahan atau hiburan. Jarang saya lihat mahasiswa yang memiliki buku-buku wajib perjuangan mahasiswa : seperti buku para tokoh bangsa soekarno,hatta,sjahrir,ki hadjar dewantara, buku soe hok gie “catatan seorang demonstran, tetralogi pramoedya ananta toer, buku filsafat karl marx, plato, dll. Sedangkan jelas buku tersebutlah yang memberikan dan menjaga semangat kita untuk menjadi mahasiswa idealnya. Bahkan parahnya lagi membaca koran atau menyaksikan media yang mengandung unsur berita tidak setiap hari, sedangkan ini penting untuk mengupdate perkembangan sosial.
Selain itu sepinya forum-forum diskusi untuk menyelesaikan persoalan sosial, juga memperlihatkan bahwa mahasiswa udayana sebagian besar tidak lagi peduli atas kondisi sosialnya baik di kampus, bali maupun indonesia. Lebih baik memilih ke mall atau ke tempat nongkrong lainnya. Bahkan sajian kegiatan mahasiswa yang di lakukan oleh temannya acapkali di kecam tidak bermutu atau tidak mengandung unsur sosial dll, sedangkan apabila di minta untuk membantu menuangkan gagasan dalam bentuk kongkrit membangun organisasi dan kegiatan mahasiswa yang mempunyai makna sejarah enggan dengan alasan yang bermacam-macam, terkesan normatif dan klise, seperti sibuk tugas, kuliah dan praktikum. Apakah tidak di anggap mahasiswa yang aktif kuliah teman-temannya aktivis di organisasi ?.
Inilah realitas yang harus kita gugat bersama, mahasiswa tidak boleh menjadi menara gading atas persoalan sosial yang ada baik dalam skala terkecil maupun lingkup luas. Mahasiswa tidak boleh lagi ansich berada di bangku perkuliahan,apabila ada persoalan sosial hanya bisa mengecam atau paling maksimal. Karena persoalan tidak bisa selesai dengan mengecam atau berdoa saja, namun harus di iringi keuletan untuk mengoptimalisasi pengetahuan yang di dapat dari kelas untuk mengaktualisasikannya dalam perjuangannya. Sebuah pesan dari Prof.Ikrar nusa bakti “ Akademisi dan pengamat politik” tentang mahasiswa , bahwa kaum intelektual indonesia bukanlah orang-orang yang berumah di atas angin, mereka juga bukan cerdik cendikia yang tinggal di menara gading yang tercerabut dari akar masyarakatnya hidup dan hidup di awang-awang, melainkan dan terlebih lagi harus siap abagikan resi yang turun dari tempat pertapaan mereka di gunung-gunung. Artinya hasil kontempelasi pemikiran sebagai resi yang bertapa menimba ilmu di Universitasnya dj jabarkan dalam pemikiran dan tindakan nyata di masyarakat. Selamat berjuang kawan-kawan. Semoga kita sadar bahwa kampus, bali dan Indonesia masa depannya juga ada di pundak kita.MERDEKA
Hidup Mahasiswa Indonesia
Hidup Rakyat Indonesia
Maklum, lebih banyak yang "concern" pada kata "IPK" daripada menjunjung kata "MERDEKA", lebih senang "MENCOBA" daripada "BERKARYA", dan lebih menarik untuk menjadi "SINIS" daripada "IDEALIS"
BalasHapusTeruskan perjuanganmu SOBAT
Tidak masalah badan BERKERINGAT
Karena tandanya kita masih punya SEMANGAT
Untuk menunjukkan karya HEBAT
Salut!
In may humble opinion, there're was a significant changing of intellectual thinking about idealism on student (university student). On our successful history of student movement many different path to see who we faced with. Before we get our independence, the young student have to faced colonialism, some of them been captured, sent to jail without fair trial and many more but in the end after generation to generation they made it!. Then Indonesia set up be a new country and take part in world organization, the student have to faced different "enemy"‚ which is their tyranny government who not take side to their people. Soekarno and Soeharto victimed and fall down by student idealism that time. But after the new kind of democration successfully taken by our senior student on may 98 with many life been sacrificed, we have a ironic situation. Ironic because we don't facing colonialism from other country nor tyranny government but we are being too busy just facing the other student idealism movement, more focus to our beloved university we have to facing the student who has no idea anything about being student, Ironic!. But we've to see this situation with more optimistic way, I never heard any kind of student movement success easily, more for me, I still believe there's no end for student movement because its our nature for being dynamic and not static, and that dynamic thing wont work if we don't know the reason being student! Goodluck adji and may the spirit always be with student of indonesia!
BalasHapussaya tidak akan banyak bicara karena apa yang kak adji sampaikan memang sesuai dengan apa yang saya jg rasakan dan saya lihat.Saya sendiri mengkritik kebijakan fakultas saya yakni hukum untuk melaksanakan kuliah pada hari sabtu yang mana kebijakan tersebut "seolah-olah" meninabobokan kami,mahasiswa fakultas hukum unud!Karena apa? Karena kami lagi2 seolah dipacu untuk fokus belajar padahal pada sabtu dan minggu menurut pandangan saya pribadi merupakan hari dimana mahasiswa bisa fokus dalam meningkatkan performanya dalam bentuk aksi! Praktis jadwal sabtu ini sangat "mengganggu" aksi kami! misalnya saja kegiatan sosial besok yakni penghijauan unud, kami mahasiswa fakultas hukum unud semester awal hanya bisa apa? sabtu depan jg ada sekolah anti korupsi yang merupakan cikal bakal kita sbg pemimpin yang bersih tapi kami juga harus berkutat dengan uas, lantas kami bisa apa? begitu pula dengan kegiatan-kegiatan kemaren dan kedepannya yang tepat hari sabtu. Saya rasa ini adalah salah satu wujud tekanan dari fakultas agar kita senantiasa belajar dan belajar yang mana bisa menamatkan kita 3,5th atau 3th?
BalasHapusPadahal saya rasa kebijakan yg saya jelaskan diatas kurang relevan apabila dilihat dengan realita di lapangan. Saya jg merasakan ketidakadilan disini karena saya fakultas hukum unud , HUKUM yang menjadi panglima ternyata tidak mempunyai taring untuk turut serta berperan. Saya minta bantuan kak adji untuk jg koreksi jadwal kuliah sabtu kami yang mana saya tahu teman-teman memiliki potensi yang sangat besar. Kita mahasiswa harus senantiasa melihat, mengawasi serta mengkritisi kinerja pemerintahan!
"Tidak ada yang lebih dibenci seorang patriot sejati selain ketidakadilan di Tanah Airnya sendiri." -Clarence Seward Darrow
saya nggak berani berpendapat, soalnya sudah ada sarjana yang berpendapat di atas. (sembah sujud).
BalasHapuskomen, gagasan cerdas bahasanya harus disederhanakan agar semua bisa paham :))