Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 83 tahun menarik untuk kita refleksikan dalam bentuk kilas balik sejarah kejayaan Merah Putih. Refleksi sejarah kejayaan Merah Putih bertujuan sebagai “doping” penambah semangat baru dalam menghadapi bahtera kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin hari kian kompleks. Merah Putih yang dimaksud bukan hanya pemaknaan simbol warna bendera negara Indonesia. Bukan Cuma arti bahwa merah pertanda berani dan putih melambangkan kesucian dalam rangka mengusir kaum Kolonial dari tanah ibu pertiwi tercinta. Pemaknaan merah putih dalam konteks sejarah tidak dimulai pada saat perjuangan merebut kemerdekaan dan tidak berhenti saat dikumandangkannya proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kejayaan panji-panji Merah Putih bahkan sudah ditegakan jauh sebelum para penjajah merebut paksa tanah air kita yang subur dan kaya. Merah Putih juga terus mencoba melawan kerasnya angin dalam mengukir tinta emas sejarah harumnya nama Indonesia dalam pergaulan internasional pasca kemerdekaan.Zaman Keemasan Kerajaan Majapahit yang berhasil menyatukan seantero Nusantara dan harum namanya hingga mancanegara juga tidak terlepas dari simbol merah serta putih. Penyatuan Nusantara pertengahan abad ke 14 oleh Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada tidak hanya disimbolkan melalui pengibaran lambang kerajaan yaitu Panji-Panji Gula Kelapa atau Cihna Gringsing lobheng lewih laka, melainkan juga ikut dikibarkannya panji-panji berwarna merah putih. Warna Merah Putih digunakan sebagai panji-panji kebesaran Kerajaan Majapahit yang wilayahnya seluruh Indonesia hingga Malaysia ( saat ini ). Bahkan kebesarannya ditakuti hingga Mancanegara. Kerajaan Cina yang digdayapun sekalipun harus berfikir beribu-ribu kali untuk menghancurkan Panji-Panji Merah Putih dibawah Kejayaan Majapahit. Merah Putih memberi makna simbol kejayaan Kerajaan Nusantara dimasa lampau.
Langkah mengembalikan kejayaan Merah Putih juga dilakukan oleh sekelompok anak muda baik baik di dalam negeri maupun di luar negeri sekitar tahun 1920an. Sekelompok anak muda tesebut berangkat dari kalangan intelektual yang sadar akan penderitaan bangsanya akibat penjajahan beratus-ratus tahun lamanya. Pada tanggal 11 januari 1925 sekelompok mahasiswa Hindia Belanda yang berkesempatan kuliah di negeri Belanda merubah nama organisasinya dari Indonesische Vereeniging ( Perhimpunan mahasiswa Hindia Belanda ) menjadi Perhimpunan Indonesia, hal ini juga disusul dengan penerbitan majalah Indonesia Merdeka. Perubahan nama organisasi menjadi Perhimpunan Indonesia merupakan upaya berjuang lepas dari penjajahan melalui propaganda politik di dunia Internasional. Beberapa tokoh Perhimpunan Indonesia yang juga bagian dari bapak bangsa Indonesia adalah Mohammad Hatta ( Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia ), Iwa K Soemantri ( Mantan Menteri Pendidikan dan Rektor Unpad ) , Sutan Sjahrir ( Perdana Menteri Indonesia Pertama ) dan lain-lain. Pemerintah Kolonial Belanda sangat khawatir dengan langkah-langkah politik yang dilakukan Perhimpunan Indonesia untuk merebut kemerdekaan penuh atas tanah Indonesia. Bayangkan saja propaganda melalui Majalah Indonesia Merdeka dan memimpin forum anti kolonialisme Internasional cukup efektif membuka mata dunia Internasional akan kejamnya penjajahan di bumi pertiwi. Hal ini mengakibatkan beberapa anggota Perhimpunan Indonesia pernah merasakan dinginnya lantai penjara dan sunyinya wilayah pembuangan demi tegaknya panji Merah Putih yang terbebas dari penjajahan.
Pada tanggal 4 juli 1927 lahirlah Partai Nasional Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno dan beberapa sahabatnya. Pendirian Partai Nasional Indonesia saat itu bertujuan satu yaitu kemerdekaan Indonesia. Merebut kejayaan Merah Putih yang lama tertindas oleh kejamnya penjajahan. Soekarno berhasil membuat rakyat bergelora bahu membahu melawan kolonialisme. Rakyat Hindia Belanda tersadar kembali bahwa Merah Putih pernah berjaya dan dihormati mancanegara sebelum penjajahan merenggut itu semua. Pemerintah Kolonial Belanda gentar akan semakin termobilisasinya gerakan rakyat, bahkan rela menyerahkan jiwa raganya demi menegakan kembali panji-panji kejayaan Merah Putih. Kegentaran Belanda dipertontonkan dengan penangkapan atau pembuangan tokoh-tokoh partai dan dibredelnya Partai Nasional Indonesia.
Kesadaran rakyat semakin terakumulatif untuk menegakan kembali kejayaan Merah Putih juga terwujudkan dengan lahirnya sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Berbagai organisasi pemuda yang masih menganut asas provinsialisme atau kesukuan melakukan rapat akbar untuk mendeklarasikan sumpah pengakuan dan kesetiaannya terhadap bumi pertiwi. Sumpah Pemuda 1928 merupakan salah satu langkah Menancapkan kembali Merah Putih di persada Nusantara.
Pasca Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia tertanggal 17 Agustus 1945, Merah Putih tidak berhenti menunjukan gemerlapnya di taman sari Internasionalisme. Merah Putih memberi banyak sumbangsih besar peradaban umat manusia. Sumbangsih besar Merah Putih untuk kemajuan dunia Internasional bisa terlihat dari gagasan besar seperti Konfrensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung, yang berupaya memberi dukungan penuh kepada negara-negara yang berjuang merebut kemerdekaan dari kaum kolonial. Konfrensi Asia Afrika juga memberikan dampak positif dengan terbentuknya Gerakan Non Blok tahun 1961, untuk mewujudkan konsepsi jalinan hubungan internasional bebas aktif tanpa berpihak kepada salah satu blok yang bertikai, baik blok barat maupun timur. Merah Putih terlibat aktif dalam penggagasan Gerakan Non Blok ini. Gagasan perdamaian dan hubungan egaliter antar negara-negara di seluruh belahan dunia tidak terlepas dari sumbangsih para pemimpin Merah Putih. Panji-panji Merah Putih kedigdayaannya sangat diperhitungkan dalam kancah Internasional.
Namun Merah Putih hari ini kembali terlelap dalam tidur panjangnya. Saat ini Merah Putih sebagian besar hanya dijadikan simbol oleh rakyatnya dalam perayaan proklamasi kemerdekaan. Merah Putih tidak lagi menjadi spirit berjuang untuk kemajuan bangsa serta kemanusiaan. Meskipun kita juga melihat secara objektif terdapat beberapa anak bangsa yang bahu membahu menginspirasi lingkungan sosial atau bahkan dunia menggunakan semangat Merah Putih. Benar memang realitas dilapangan, lebih banyak bandit daripada pahlawan dibumi pertiwi saat ini. Namun bukan berarti lantas membuat kita mengendurkan impian dan semangat untuk menegakan kembali panji-panji merah putih. Kita harus bermimpi dan bekerja, sebagaimana Gajah Mada bermimpi dan bekerja untuk satunya Nusantara atau Soekarno bersama Hatta yang bermimpi dan berjuang melepaskan bumi pertiwi dari kenistaan serta kebodohan akibat penjajahan. Kita harus punya mimpi dan mentransformasikannya dalam tindakan.
Sejarah Membuat kita Malu bahwa ternyata kita belum melakukan banyak hal,
berbeda dengan apa yang diukir leluhur terdahulu.
( Adji Prakoso, Kader GmnI Denpasar dan PERMAHI Bali )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar