Rabu, 29 Februari 2012

Bangsa Besar dan Pertunjukan Layar Lebar

Derasnya kemajuan teknologi dan informasi, memberikan dampak positif perkembangan seni modern. Film salah satu seni modern yang maju pesat. Aktivitas kehidupan dipenjuru bumi tidak bisa terlepas dari film, bahkan candu bagi sebagian individu. Asalmula dibuatnya film bertujuan menjadi hiburan masyarakat ditengah sumpeknya problematika kehidupan, namun seiring perjalanan terdapat perluasan orientasi pembuatan sebuah film. Perluasan orientasi dikarenakan sihir film bisa mengubah perilaku sosial. Tidak hanya individu tersihir, kelompok atau dunia dapat terbawa arus. Contohnya, banyak anak kecil di dunia menonton film walt disney dan hafal nama pemerannya,dibandingkan mengingat pendiri bangsanya. Di Indonesia kasusnya tidak berbeda, anak kecil produk 1990 hingga 2000an lebih kenal doraemon daripada Sutan Sjahrir ( Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia). Bahkan tidak sedikit anak bermimpi seperti idolanya di film, menjadi doraemon agar bisa pergi kemana saja menggunakan pintu ajaib atau satria baja hitam yang mudah menumpas musuhnya lewat perkelahian.

Berubahnya perilaku sosial fokus kesalahanya tidak diproduser film yang mampu merebut hati masyarakat. Pemegang kebijakan khususnya di negara dunia ketiga, dimana masyarakatnya mudah dihanyutkan tragedi di film, harus mengubah pandangan konservatif bahwa film ansich media hiburan. Betul sekali, tujuan kebanyakan produser menggarap film demi mengejar pundi-pundi uang. Namun tidak sedikit film diproduksi sebagai instrumen propagandis kebesaran peradaban sebuah bangsa.

Pemerintah negara maju mampu membaca peluang besarnya pengaruh film terhadap perkembangan aktivitas sosial. Film jadi alat propaganda efektif membangkitkan rasa kecintaan terhadap negara. Selain itu, memperlihatkan kepada dunia bahwa negaranya super power . Negara besar yang menjadikan film alat propaganda contohnya Amerika Serikat, China dan Jepang. Film Rambo jikalau dicermati bukan sekedar film perang, sangat visual ditransformasikan kehebatan seorang tentara Amerika Serikat dapat memenangkan disegala medan pertempuran. Menunjukan kepada dunia bahwa Amerika Serikat adalah bangsa unggulan yang tidak dapat ditaklukkan. Bahkan rambo digambarkan bertelanjang dada memenangkan perang tersebut. Realitasnya berbanding terbalik, Tentara Amerika Serikat kalah memalukan melawan Vietcong, dalam perang Vietnam ditahun1970an. Selain itu, tentara bertelanjang dada keluar masuk hutan belantara sudah pasti tewas duluan digigit nyamuk malaria.

Film kolosal China juga menunjukan negara komunis tersebut, punya sejarah hebat. Di dalam filmnya memunculkan warisan kebudayaan leluhur seperti tarian, jurus beladiri dan bangunan kuno bersejarah. Pemerintah China ingin mengingatkan rakyatnya bahwa leluhurnya bangsa unggulan, jadi sudah semestinya generasi penerusnya unggul dan berjaya. Film yang diproduksi Jepang juga menjelaskan pesatnya kemajuan teknologi disana. Liat saja film kartun Jepang menggambarkan canggihnya instrumen yang digunakan sang aktor utama, conthnya Baja Hitam dengan kendaraan tempurnya yang modern atau Doraemon lewat kantong ajaibnya.

Pemerintah dan produser film Indonesia harus sadar pentingnya film sebagai media propagandis kebesaran bangsa. Akan percuma, nenek moyang atau pendiri bangsa punya sejarah peradaban besar, tetapi tidak ditransformasikan kepada anak cucuk dengan metode yang membekas disanubari. Meskipun ada beberapa cineas muda berusaha sekuat tenaga membuat film propagandis kebangsaan, namun mudah loyo karena tidak ada support dari pengambil policy. Akhirnya filmnya berlalu tanpa bekas mendalam di hati rakyat. Pemimpin negeri bukan hanya bersimpati dengan menonton film berenergi kebangsaan saja, kebijakannyapun harus berperan serta memajukan film tersebut. Minimal adanya keringanan pajak pembuatan film yang mensyiarkan sejarah besar peradaban bangsa, menginspirasi dan mengedukasi masyarakat. Selain itu, membantu proses promosi, lebih hebat lagi jika pemerintah memfasilitasi rakyat menonton film propagandis kebangsaan tersebut secara berkala. Jadi tidak terbayangkan luar biasanya, apabila ada film mengisahkan kebesaran peradaban Majapahit atau Sriwijaya. Bahkan film deskriptif suasana heroik menuju kemerdekaan dengan sosok yang ditonjolkan Soekarno, Hatta dan pendiri bangsa lainnya. Jadi bisa diminimalisir jumlah anak kecil yang lebih kenal Doraemon dibandingkan pahlawan negaranya.

4 komentar:

  1. makasihh yaa la, mhn kritikannya juga

    BalasHapus
  2. bangsa indonesia uga tidah kalah digdaya bung buktinya filem filem kita banyak yg mengungguli kesaktian doraemon dan rambo bung, contohnya manusia bisa menjadi kalajengjing raksasa, dan naga terbang ala "indosiar" (becanda bung)

    BalasHapus
  3. hahaha, bener bung dari segi khayalan tidak kalah hebat, tapi saking hebatnya samapai sulit dicerna maksud dari film tersebut. hahahahah

    BalasHapus