Sabtu, 02 Juni 2012

Salam Mereka Meruntuhkan Kalbu



Hati ini tidak tertata rapih di malam jelang hari pertama praktek mengajar , analoginya bagaikanpenjelajah yang terdampar dipulau tak berpenghuni. Merasakan kesenangan tetapi juga dikerumuni kewaspadaan. Yang muncul dalam benak, pertanyaan-pertanyaan penuh asumsi pribadi seperti “Bisa tidak mengelola kelas dan menguasai materi secara maksimal ?, "Bagaimana perilaku murid yang dihadapi esok, akankah mereka jadi makhluk bergentayangan mempermalukan diri ini ?”. Namun saya coba kuasai rasa takut tanpa pembuktian. Saya beruntung ada hati kecil, kerap jadi pengingat. Bisikannya mengatakan, “Esok akan saya temui tunas-tunas harapan bangsa dan negara. Jadikanlah mereka sebagai sahabat, tempat belajar banyak hal, dan ladang amal”.

Asumsi semalam ternyata salah besar. Hari pertama kami berempat melangkah masuk ke halaman sekolah dasar Tantina. Mereka antusias menyambut kami dengan mengucapkan selamat pagi dan assalamualaikum. Bahkan ada beberapa diantara mereka sudah menyebut-nyebut nama kami. Ingatan anak-anak lugu itu,dahsyat dan menggetarkan kalbu. Meskipun kami pernah melakukan aktivitas kegiatan belajar dan bermain dengan tunas-tunas kecil tersebut, tetapi itu satu kali dan berlangsung dua jam. Saya terdiam dan terbata-bata menyambut salam hangat mereka. Rasanya hati ingin berteriak, “Gila tidak pernah saya temukan salam hangat dan setulus ini”.


Kegiatan hari pertamapun berlanjut di kelas. Grogi, kaget dan rasa antusias terkolaborasi menjadi satu. Apalagi kelas pertama dijadikan wahana praktek adalah kelas dua. Siswanya ramai dan luar biasa aktif selama satu hari full kegiatan mengajar. Tetapi mereka juga menghormati seluruh materi yang disampaikan. Bahkan tidak jarang pertanyaan kritis dan diluar nalar terungkap dari wajah polos anak-anak itu. Ya, meskipun suasana kelas tidak terlepas dari canda tawa yang terkadang berlebihan. Namun di benak berujar “sungguh kehormatan luar biasa dari tuhan, diberikan kesempatan mengajar dan bermain dengan anak-anak yang punya potensi hebat. Semoga tanah air tercinta bisa berubah maju dan sejahtera ditangan mereka kelak”.


Praktek mengajar hari kedua segera dimulai, untuk hari itu kami melangkah menuju sekolah lewat jalur belakang. Pertimbangannya sederhana hanya menghemat tenaga karena masuk dari pintu depan gerbang sekolah jauh dan melelahkan. Ketika empat pasang kaki calon pengajar muda angkatan 4 mulai mendekat pintu belakang sekolah, tunas-tunas kecil itu berlari sekuat tenaga mengarah kepada kami. Ayunan kaki bocah-bocah diiringi lengkingan suara yang memanggil nama kami satu persatu. Mereka berebut untuk meraih tangan kami. Setelah tangan kami berhasil mereka raih, senyum manis dan ucapan salam hangat terurai. Rasanya air mata ini hendak bergelinangan, terharu melihat tingkah laku polos mereka. Ucapan syukur juga tidak lepas terucap dalam hati, “Iya tuhan terimakasih anugrah ini mengalahkan limpahan penghasilan. Semoga kelak engkau jadikan bocah-bocah ini berguna buat tanah airnya”. Bagi saya, inilah salah satu pembelajaran hidup yang berharga. Siswaku, kalian menginspirasi saya.