Hati
ini tidak tertata rapih di malam jelang hari pertama praktek mengajar ,
analoginya bagaikanpenjelajah yang terdampar dipulau tak berpenghuni.
Merasakan kesenangan tetapi juga dikerumuni kewaspadaan. Yang muncul dalam
benak, pertanyaan-pertanyaan penuh asumsi pribadi seperti “Bisa tidak mengelola
kelas dan menguasai materi secara maksimal ?, "Bagaimana perilaku murid yang dihadapi
esok, akankah mereka jadi makhluk bergentayangan mempermalukan diri ini ?”. Namun
saya coba kuasai rasa takut tanpa pembuktian. Saya beruntung ada hati kecil,
kerap jadi pengingat. Bisikannya mengatakan, “Esok akan saya temui tunas-tunas
harapan bangsa dan negara. Jadikanlah mereka sebagai sahabat, tempat belajar
banyak hal, dan ladang amal”.
Asumsi
semalam ternyata salah besar. Hari pertama kami berempat melangkah masuk ke
halaman sekolah dasar Tantina. Mereka antusias menyambut kami dengan
mengucapkan selamat pagi dan assalamualaikum.
Bahkan ada beberapa diantara mereka sudah menyebut-nyebut nama kami. Ingatan
anak-anak lugu itu,dahsyat dan menggetarkan kalbu. Meskipun kami pernah
melakukan aktivitas kegiatan belajar dan bermain dengan tunas-tunas kecil
tersebut, tetapi itu satu kali dan berlangsung dua jam. Saya terdiam dan
terbata-bata menyambut salam hangat mereka.
Rasanya hati ingin berteriak, “Gila tidak pernah saya temukan salam hangat dan
setulus ini”.
Kegiatan
hari pertamapun berlanjut di kelas. Grogi, kaget dan rasa antusias
terkolaborasi menjadi satu. Apalagi kelas pertama dijadikan wahana praktek
adalah kelas dua. Siswanya ramai dan luar biasa aktif selama satu hari full
kegiatan mengajar. Tetapi mereka juga menghormati seluruh materi yang
disampaikan. Bahkan tidak jarang pertanyaan kritis dan diluar nalar terungkap
dari wajah polos anak-anak itu. Ya, meskipun suasana kelas tidak terlepas dari
canda tawa yang terkadang berlebihan. Namun di benak berujar “sungguh
kehormatan luar biasa dari tuhan, diberikan kesempatan mengajar dan bermain
dengan anak-anak yang punya potensi hebat. Semoga tanah air tercinta bisa
berubah maju dan sejahtera ditangan mereka kelak”.
Praktek
mengajar hari kedua segera dimulai, untuk hari itu kami melangkah menuju
sekolah lewat jalur belakang. Pertimbangannya sederhana hanya menghemat tenaga
karena masuk dari pintu depan gerbang sekolah jauh dan melelahkan. Ketika empat
pasang kaki calon pengajar muda angkatan 4 mulai mendekat pintu belakang
sekolah, tunas-tunas kecil itu berlari sekuat tenaga mengarah kepada kami.
Ayunan kaki bocah-bocah diiringi lengkingan suara yang memanggil nama kami satu
persatu. Mereka berebut untuk meraih tangan kami. Setelah tangan kami berhasil
mereka raih, senyum manis dan ucapan salam hangat terurai. Rasanya air mata ini
hendak bergelinangan, terharu melihat tingkah laku polos mereka. Ucapan syukur
juga tidak lepas terucap dalam hati, “Iya tuhan terimakasih anugrah ini
mengalahkan limpahan penghasilan. Semoga kelak engkau jadikan bocah-bocah ini
berguna buat tanah airnya”. Bagi saya, inilah salah satu pembelajaran hidup
yang berharga. Siswaku, kalian menginspirasi saya.
