Pastinya kita pernah melihat
iklan produk “Talk Less Do More”,
berarti sedikit bicara banyak bekerja. Tidak sedikit diantara kita bersepakat
dengan iklan tersebut. Bahkan ada yang menjadi pembela iklan, ini jelas
bertentangan dengan sejarah dunia dan nasional. Iya mengamini makna talk less do more, ekstremnya lagi membela.
Saya simpulkan termasuk golongan manusia kurang membaca dan tidak memaknai
setiap jengkal sejarah peradaban dunia. Adakah terheran atas kesimpulan ini ? Tentunya
kita tidak ingin jadi manusia tidak beradab, karena gagal memahami sejarah
peradaban dunia.
Banyak bicara aspek
utama membangun peradaban besar, termasuk di dalamnya kemerdekaan,
kesejahteraan atau penjajahan sekalipun. Banyak bicara instrumen utama propaganda,
tidak ada sejarah dunia tanpa propaganda. Propaganda ruhnya sebuah perjuangan,
entah perjuangan apapun itu. Tentu rekan-rekan mengenal sejarah revolusi
Perancis dengan slogan liberte, egalite
dan fraternite, diagungkan banyak individu sebagai awal pencerahan memasuki
zaman demokrasi liberal. Jelas, tidak mungkin kaum pemilik modal Perancis
meruntuhkan kekuasaan feodal ( kerajaan ) tanpa propaganda kepada rakyat.
Mereka banyak berbicara pentingnya
revolusi untuk membangun peradaban baru didasarkan kemerdekaan, persamaan dan
persaudaraan. Walaupun akhirnya rakyat marhaen Perancis hanya jadi pengupas
kulit revolusi.
Tentu masyarakat dunia,
familiar dengan tokoh Adolf Hitler. Pribadi fenomenal ini merampas Jerman dan
sebagian wilayah Eropa dengan kerongkongannya. Dalam buku anti Hitler yang
menarik, “Propaganda als Waffe” atau
propaganda sebagai senjata. Penulisnya Willi Muenzenberg aktivis pergerakan
buruh dibinasakan oleh Hitler, mengakui pentingnya propaganda dan menjelaskan
kekalahan kaum buruh Jerman oleh Nazi dikarenakan keringnya kerongkongan.
Bahkan menurut Hitler orang disebut laki-laki adalah mampu menggerakan massa.
Peradaban dunia jelas
mengenal sosok Nabi Muhammad SAW, diciptakan Tuhan sebagai rahmat semesta alam.
Ajaran Islam yang disampaikan mencerahkan Timur Tengah secara khusus dan dunia
umumnya, pasti tidak berjalan tanpa propaganda. Islam diajarkan melalui jalan
dakwah, berbicara dari satu tempat ke tempat lain, selain memberikan contoh
tauladan. Lihatlah kemajuan peradaban Timur Tengah masa lampau seperti Kerajaan
Ottoman, Dinasti Persia dan kesultanan lainnya, akibat propaganda Rasullah dan
para sahabat. Bahkan hari ini Islam menjadi agama kedua terbesar dunia, dilalui
melalui propaganda panjang Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan alim ulama.
Banyak bicara mempunyai
kaitan erat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Siapa berani menantang, bahwa
kemerdekaan Indonesia direbut tanpa banyak berbicaranya bapak bangsa akan
pentingnya lepas dari belenggu penjajahan kepada rakyat di penjuru nusantara
dan dunia? Pembentukan Partai berideologi nasionalis didirikan founding fathers sebelum kemerdekaan bertujuan
menyebarkan, menularkan dan meyakinkan kepada khalayak ramai pentingnya menjadi
bangsa Merdeka. Banyak bicara dari mimbar ke mimbar, rapat terbuka dan
berinteraksi langsung bersama rakyat instrumen menularkan gagasan merebut
kemerdekaan. Indonesia Merdeka tidak bisa dicapai hanya membangun koperasi dan
kerja formil lainnya, karena Kolonial tidak akan ikhlas, secara cuma-cuma
memberikan kemerdekaan Republik ini.
Sekarang kita simpulkan
banyak bicara bagaimana yang memberikan kebaikan dan menjadi alat perjuangan
membangun sebuah peradaban. Banyak bicara sebagai dasar propaganda haruslah
mendidik, bukan memabukan, menyilaukan dan memanggil rasa sentimen. Janganlah
kita meniru propagandanya Nazi menularkan dan menyuruh yakin pengikutnya untuk
bersentimen kepada suku, agama dan ras lainnya. Janganglah mengikuti propaganda
borjuis Perancis, memperalat rakyat untuk merebut revolusi dan kemudian membuang
mereka. Propaganda sejati menuju rasa, akal, kalbu, dan pikiran. Banyak bicara
wajib dibangun sebagai media propagandis dan menjadikan manusia aktor sejarah
kemajuan peradaban. Membaca tulisan ini,kepada teman-teman yang masih teracuni “Talk Less Do More”. Ubahlah kesalah
pahaman dan pendirian tersebut. Ikutlah slogan Bung Karno Banyak bicara, banyak
bekerja “Talk More Do More”
Penulis : Adji Prakoso,
Kader GmnI Denpasar