Sabtu, 17 Agustus 2013

Banyak Bicara itu Kerja



Pastinya kita pernah melihat iklan produk “Talk Less Do More”, berarti sedikit bicara banyak bekerja. Tidak sedikit diantara kita bersepakat dengan iklan tersebut. Bahkan ada yang menjadi pembela iklan, ini jelas bertentangan dengan sejarah dunia dan nasional. Iya mengamini makna talk less do more, ekstremnya lagi membela. Saya simpulkan termasuk golongan manusia kurang membaca dan tidak memaknai setiap jengkal sejarah peradaban dunia. Adakah terheran atas kesimpulan ini ? Tentunya kita tidak ingin jadi manusia tidak beradab, karena gagal memahami sejarah peradaban dunia.

Banyak bicara aspek utama membangun peradaban besar, termasuk di dalamnya kemerdekaan, kesejahteraan atau penjajahan sekalipun. Banyak bicara instrumen utama propaganda, tidak ada sejarah dunia tanpa propaganda. Propaganda ruhnya sebuah perjuangan, entah perjuangan apapun itu. Tentu rekan-rekan mengenal sejarah revolusi Perancis dengan slogan liberte, egalite dan fraternite, diagungkan banyak individu sebagai awal pencerahan memasuki zaman demokrasi liberal. Jelas, tidak mungkin kaum pemilik modal Perancis meruntuhkan kekuasaan feodal ( kerajaan ) tanpa propaganda kepada rakyat. Mereka banyak berbicara  pentingnya revolusi untuk membangun peradaban baru didasarkan kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan. Walaupun akhirnya rakyat marhaen Perancis hanya jadi pengupas kulit revolusi.

Tentu masyarakat dunia, familiar dengan tokoh Adolf Hitler. Pribadi fenomenal ini merampas Jerman dan sebagian wilayah Eropa dengan kerongkongannya. Dalam buku anti Hitler yang menarik, “Propaganda als Waffe” atau propaganda sebagai senjata. Penulisnya Willi Muenzenberg aktivis pergerakan buruh dibinasakan oleh Hitler, mengakui pentingnya propaganda dan menjelaskan kekalahan kaum buruh Jerman oleh Nazi dikarenakan keringnya kerongkongan. Bahkan menurut Hitler orang disebut laki-laki adalah mampu menggerakan massa.
Peradaban dunia jelas mengenal sosok Nabi Muhammad SAW,  diciptakan Tuhan sebagai rahmat semesta alam. Ajaran Islam yang disampaikan mencerahkan Timur Tengah secara khusus dan dunia umumnya, pasti tidak berjalan tanpa propaganda. Islam diajarkan melalui jalan dakwah, berbicara dari satu tempat ke tempat lain, selain memberikan contoh tauladan. Lihatlah kemajuan peradaban Timur Tengah masa lampau seperti Kerajaan Ottoman, Dinasti Persia dan kesultanan lainnya, akibat propaganda Rasullah dan para sahabat. Bahkan hari ini Islam menjadi agama kedua terbesar dunia, dilalui melalui propaganda panjang Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan alim ulama.

Banyak bicara mempunyai kaitan erat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Siapa berani menantang, bahwa kemerdekaan Indonesia direbut tanpa banyak berbicaranya bapak bangsa akan pentingnya lepas dari belenggu penjajahan kepada rakyat di penjuru nusantara dan dunia? Pembentukan Partai berideologi nasionalis didirikan founding fathers sebelum kemerdekaan bertujuan menyebarkan, menularkan dan meyakinkan kepada khalayak ramai pentingnya menjadi bangsa Merdeka. Banyak bicara dari mimbar ke mimbar, rapat terbuka dan berinteraksi langsung bersama rakyat instrumen menularkan gagasan merebut kemerdekaan. Indonesia Merdeka tidak bisa dicapai hanya membangun koperasi dan kerja formil lainnya, karena Kolonial tidak akan ikhlas, secara cuma-cuma memberikan kemerdekaan Republik ini.

Sekarang kita simpulkan banyak bicara bagaimana yang memberikan kebaikan dan menjadi alat perjuangan membangun sebuah peradaban. Banyak bicara sebagai dasar propaganda haruslah mendidik, bukan memabukan, menyilaukan dan memanggil rasa sentimen. Janganlah kita meniru propagandanya Nazi menularkan dan menyuruh yakin pengikutnya untuk bersentimen kepada suku, agama dan ras lainnya. Janganglah mengikuti propaganda borjuis Perancis, memperalat rakyat untuk merebut revolusi dan kemudian membuang mereka. Propaganda sejati menuju rasa, akal, kalbu, dan pikiran. Banyak bicara wajib dibangun sebagai media propagandis dan menjadikan manusia aktor sejarah kemajuan peradaban. Membaca tulisan ini,kepada teman-teman yang masih teracuni “Talk Less Do More”. Ubahlah kesalah pahaman dan pendirian tersebut. Ikutlah slogan Bung Karno Banyak bicara, banyak bekerja “Talk More Do More”



Penulis : Adji Prakoso, Kader GmnI Denpasar